Jakarta– Bagi saya, ADEM (Afirmasi Pendidikan Menengah-Red) merupakan life-changing experience program yang membantu anak-anak Papua untuk bisa lebih berkembang di lingkungan yang berbeda. Program ADEM juga menjadi jawaban untuk mengejar pemerataan pendidikan, karena jadi jembatan buat banyak anak-anak Papua untuk mendapatkan pendidikan yang lebih maju”.
Kalimat apresiatif ini keluar dari mulut Lukas Norman Kbarek, alumni ADEM di SMA Bhineka Tunggal Ika Yogyakarta yang melanjutkan kuliah melalui Program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) di Program Studi Ilmu Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Bali. Tak berhenti di gelar S1, Lukas melanjutkan kuliah S2 di Lancaster University Inggris melalui beasiswa LPDP dan hanya butuh waktu satu tahun, Lukas meraih gelar LL.M dalam bidang Hukum Internasional. Kini, putra asli Kabupaten Biak Numfor, Papua, ini, berstatus sebagai CPNS di Kementerian Luar Negeri.
Hal senada juga dikatakan Yohanes Ryaldy Wanma, juga alumni Program ADEM di SMA Bhineka Tunggal Ika,Yogyakarta yang melanjutkan kuliah melalui Program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) di Program Studi Pendidikan Ekonomi dengan konsentrasi Manajemen Pariwisata, Universitas Pattimura (Unpatti), Ambon, Maluku. Lulus S1, lajang yang akrab dipanggil Anes ini melanjutkan studi S2nya di program studi Master Degree in Tourism and Hospitality Managemen University of Florida, Amerika Serikat melalui beasiswa LPDP.
Menurut Anes, program ADEM dapat menjadi langkah dan wadah untuk anak-anak muda atau calon generasi penerus bangsa di Papua agar dapat kesempatan berpendidikan serta menambah wawasan yang luas dan bisa menjadi sumber daya manusia yang unggul yang dapat membawa perubahan untuk Papua menjadi lebih baik.
Ditanya mengenai obsesinya setelah selesai S2 kelak, Yohanes berharap bisa menjadi seorang akademisi atau di pemerintahan yang mengelola bidang pariwisata. Hal itu karena menurutnya, pemerintah punya kewenangan, dan peranan yang kuat untuk membawa perubahan. Namun, Yohanes juga punya cita-cita membuka usaha pariwisata di Papua.
“Saya ingin mengikuti jejak almarhum oyang (Kakek buyut-Red) saya, Frans Kaisepo, pahlawan nasional Indonesia yang dapat membawa semangat api dan dampak positif buat daerahnya, “tegasnya.

Sementara itu, Wiruri Helena Aprilean Rarawi, mengakui, Program ADEM merubah banyak hal dalam kehidupannya, yakni bisa belajar dunia luar, bisa mengasah diri dan karakter saya.
“Program ADEM berperan paling besar dalam hidup saya ini, sampai saya bisa berkesempatan kuliah s2 di Inggris, “katanya.
Helena, demikian nama panggilannya, mengikuti Program ADEM di SMAN 1 Sukawati, Gianyar, Bali. Lulus dari SMA, Helena mengikuti Program ADIK di Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran, Bandung.
Helena berkomitmen meningkatkan taraf kesehatan masyarakat Papua, terutama menurunkan angka kematian yang saat ini masih tinggi di Papua. Dalam upaya mewujudkan komitmen dan impiannya itu, tahun 2025 lalu, Helena mengikuti seleksi beasiswa LPDP dan lolos sehingga berhasil menjejakan kaki di Inggris untuk mengikuti perkuliahan jenjang S2 di Program Studi Global Healthcare Management di University College London.
Sedangkan bagi Sangquan Uchi A .A. Waromi, alumni ADEM di SMAN 1 Sukawati, Bali, dengan mengikuti ADEM, dirinya bisa memperluas wawasan tentang Indonesia yang Bhinneka ini, menumbuhkan rasa nasionalisme, dan belajar menghargai setiap perbedaan yang ada.
“Mengikuti ADEM semakin mengasah kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik Saya menjadi lebih baik, “ujar Uchi, nama akrabnya..
Uchi merupakan lulusan ADEM di SMA Negeri 1 Sukawati, Gianyar, Bali tahun 2016. Lulus SMA, Uchi melanjutkan studi di IPDN dan saat ini bekerja di Bappeda Kabupaten Mamberamo Tengah, Propinsi Papua Pegunungan. Tahun 2025 kemarin, Uchi melanjutan studi S2 di Queensland University,Brisbane, Australia pada program Studi Master Of Governance and Public Policy.
Lukas, Anes, Helena, dan Uci merupakan contoh alumni ADEM yang berhasil mengejar ambisi dan impiannya untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Masih ada contoh alumni ADEM Papua lainnya yang juga berhasil melanjutkan S2nya di luar negeri, seperti Gracebella Nussy di Quensland University, Australia, dan Febylina Rumaropen di Arizona State University, Amerika Serikat dan Enjel Latumarissa, S2 di Belanda.

Baca juga : Siswa ADEM Diharapkan Memiliki Literasi Keuangan yang Baik
Percepatan pembangunan SDM
Program ADEM merupakan program yang digelar Kemendikadsmen sejak tahun 2013 untuk memberi peluang kepada murid-murid di Papua, daerah 3T dan anak buruh migran di Sabah dan Serawak, Malaysia, menempuh pendidikan menengah yang berkualitas. Para siswa ADEM menempuh pendidikan jenjang SMA/SMK di sekolah-sekolah terbaik di Jawa dan Bali.
Melalui Program ADEM, diharapkan terjadi percepatan pembangunan sumber daya manusia di Papua, di wilayah 3T dan daerah perbatasan, serta bagi anak-anak buruh migran di Malaysia. Selain itu, Program ADEM juga diharapkan mempercepat akulturasi keragaman budaya.
Sampai tahun 2025, berdasarkan data Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) sebagai pengelola ADEM, ada lebih dari 12 ribu siswa yang ikut program ADEM dan sudah meluluskan sekitar 7 ribu siswa. Hampir 50 persen dari sejumlah itu merupakan siswa asal Papua, sisanya adalah siswa dari daerah 3T dan anak dari keluarga Pekerja Migran di Malaysia.
Pada tahun 2025 lalu , sebanyak 4.616 siswa ADEM tercatat masih aktif bersekolah di berbagai sekolah di Jawa dan Bali dengan total realisasi anggaran mencapai Rp90 miliar. Angka ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam mengurangi kesenjangan pendidikan di daerah.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Suharti, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari dinas pendidikan hingga para orang tua.
“Tanpa adanya kerja sama dan koordinasi yang erat, pelaksanaan program ADEM ini tidak akan berjalan secara optimal sebagaimana yang kita harapkan,” tuturnya.
Melalui keberhasilan alumni seperti Lukas, Anes dan Helena, Kemendikdasmen terus berkomitmen menghadirkan pendidikan inklusif dan bermutu untuk semua. Kisah ini menjadi bukti bahwa dengan akses yang terjangkau, setiap anak Indonesia memiliki peluang yang sama untuk bersaing di kancah internasional.
Sebagaimana yang dituturkan Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Adhika Ganendra yang mengapresiasi capaian akademik Lukas. “Ini bukti nyata bahwa ADEM merupakan intervensi pemerintah untuk memberikan akses yang lebih luas, merata, dan nyata bagi seluruh pelajar di setiap pelosok Indonesia termasuk daerah 3T. Bahwa setiap anak Indonesia dari berbagai latar belakang berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan untuk mencapai cita-cita,” pungkasnya.