Banda Aceh—Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berupa pemberian Interactive Flat Panel (IFP) kepada satuan pendidikan telah dirasakan manfaatnya oleh para guru di Sekolah Luar Biasa (SLB).
Salah satu testimoni diungkapkan beberapa guru di SLB YPPC Banda Aceh. Kehadiran IFP tidak hanya membuat suasana kelas lebih hidup, tetapi juga membantu guru menghadirkan materi yang dapat disesuaikan dengan karakter belajar setiap murid, baik visual maupun auditori.
Guru Kelas Hambatan Penglihatan di SLB tersebut, yakni Novi Widiastuti, merasakan perubahan yang signifikan sejak menggunakan perangkat tersebut.
Menurutnya, bagi murid dengan hambatan penglihatan, IFP membuka lebih banyak kesempatan untuk mengakses materi melalui audio, video, hingga tampilan yang dapat diperbesar bagi siswa low vision.
“Interactive Flat Panel sangat membantu murid tunanetra yang mengandalkan informasi melalui audiovisual. Anak-anak menjadi lebih semangat, antusias, dan rasa ingin tahunya meningkat karena pembelajaran tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga melalui media yang bisa disesuaikan dengan kemampuan penglihatan masing-masing,” ujar Novi.
Sebelum ada IFP, Novi lebih bergantung pada buku Braille, speaker, dan laptop dengan pengulangan materi yang cukup sering. Kini, setelah adanya IFP, Novi memiliki lebih banyak pilihan media.
“Saya bisa memperbesar huruf dan gambar untuk murid low vision, sementara murid tunanetra dapat belajar melalui narasi, audio, video, serta materi yang dipadukan dengan huruf Braille. Pembelajaran menjadi jauh lebih interaktif dan membuat murid lebih percaya diri mengakses materi,” tambahnya.
Manfaat serupa juga dirasakan guru kelas IIIQ, Anggawinata. Menurutnya, kombinasi gambar, video, suara, dan animasi membuat anak lebih mudah memahami materi dibandingkan pembelajaran konvensional.
“Anak autisme lebih mudah belajar lewat gambar dan suara. Dulu ada murid yang sulit fokus dan sering tantrum, tetapi ketika saya memutar video pembelajaran di IFP, ia bisa duduk tenang hingga selesai dan fokus memperhatikan layar. Perkembangannya luar biasa,” ungkap Anggawinata.
Menurut Anggawinata, kemampuan IFP menghadirkan materi yang fleksibel membuat guru dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan setiap anak.
“Ada yang lebih mudah memahami gambar, ada yang lebih paham lewat video atau audio. Semuanya bisa disesuaikan sehingga belajar tidak lagi monoton. Anak-anak juga lebih aktif karena dapat langsung berinteraksi melalui layar sentuh,” katanya.
Namun, dikatakan Anggawinata, penggunaan teknologi di kelas seperti IFP, memerlukan pendampingan yang cermat, terutama menghadapi anak autis.
“Guru harus selalu mendampingi ketika anak menggunakan IFP. Saat anak sedang tantrum, ada risiko mereka merusak layar tanpa disadari. Karena itu pengawasan yang intens dan kesiapsiagaan guru menjadi bagian penting agar pembelajaran tetap aman dan efektif,” katanya
Novi dan Anggawinataberharap semakin banyak unit IFP di setiap kelas untuk mengisi materi pembelajaran yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus. Dengan demikian, lebih banyak murid dapat merasakan manfaat pembelajaran yang inklusif, menarik, dan sesuai dengan cara belajar mereka.
Kompetensi guru SLB perlu ditingkatkan
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat, mengatakan,seiring pemanfaatan IFP di SLB, kompetensi guru perlu ditingkatkan terkait pemanfaatan dan penguasaan teknologi.
Mengutip pemikiran filsuf Martin Heidegger dalam The Question Concerning Technology, Wamen Atip menjelaskan bahwa teknologi merupakan cara manusia untuk memahami dunia. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan harus dilakukan secara tepat agar mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
“Guru harus memiliki pengetahuan, penguasaan, dan keterampilan agar mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. Guru harus menjadi aktor utama kesuksesan program Digitalisasi Pembelajaran, sehingga IFP ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap mutu pendidikan,” ujarnya.
Wamen Atip mengajak para guru di SLB untuk terus memperkuat kompetensi, mengoptimalkan pemanfaatan teknologi, serta menghadirkan inovasi dalam proses pengajaran.
“Kalau kita ingin berubah menjadi lebih baik, maka kita harus terus menciptakan kreativitas yang melahirkan inovasi. Dengan inovasi itu, kita dapat menghadirkan semangat baru, memaknakan proses pembelajaran, dan meningkatkan mutu pendidikan,” tuturnya.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, memperkuat pernyataan Wamen Atip. Menurutnya, transformasi digital di sekolah tidak hanya ditentukan oleh tersedianya perangkat teknologi, namun juga oleh kemampuan guru dalam memanfaatkannya guna mendukung proses pembelajaran.