Beberapa waktu lalu, Puslapdik menyelenggarakan sayembara menulis Kisah Inspiratif program Puslapdik dan telah diumumkan penulis yang terpilih dari kategori guru, siswa penerima PIP, siswa penerima ADEM, mahasiswa penerima beasiswa Unggulan, dan mahasiswa penerima BPI GTK. Sebagai salah satu bentuk apresiasi, hasil karya tulisnya akan dimuat secara bergiliran di laman Puslapdik.
“Tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal. Tiada keadaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan.”
Ali bin Abi Thalib
Suatu malam yang selalu saya ingat. Ayah duduk di tepi ranjang dengan wajah yang sulit di baca. Ia baru saja dilantik sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) saat usia 35 tahun. “Bapak terlambat,” katanya pelan, tanpa menatap saya. Masih dengan nada pelan namun tegas, ayah menatap saya dan berucap “Kamu jangan.” Saya diam. Namun, kalimat itu terus hidup dalam diri saya.
Saya tumbuh di Bengkulu, di rumah yang sederhana tetapi dipenuhi keyakinan bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan. Ibu bekerja sebagai staf tata usaha di sebuah universitas swasta, sementara ayah menempuh perjalanan panjang sebelum mencapai impiannya. Dari keduanya, saya belajar bahwa pendidikan bukan sekadar jalan keluar dari keterbatasan, melainkan amanah untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Pelajaran itu mulai saya pahami saat menjadi Dokter Kecil di sekolah dasar. Saat itulah saya menyadari bahwa ilmu tidak berhenti ketika dipelajari, tetapi ketika dibagikan. Prinsip tersebut terus saya bawa hingga dipercaya menjadi Ketua Pelaksana Cendana Fair Tahun 2023 saat menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS 2023/2024 SMAN 5 Bengkulu . Bagi saya, Cendana Fair bukan sekadar agenda tahunan sekolah. Bersama 100 rekan panitia, kami menggandeng 20 UMKM lokal, menyelenggarakan 25 cabang lomba, serta menghadirkan Tulus dan Sal Priadi dalam konser yang menggerakkan ekonomi kreatif Bengkulu. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa keberhasilan sebuah kegiatan tidak diukur dari seberapa meriahnya acara, melainkan dari seberapa besar dampak yang ditinggalkannya. Nilai itulah yang kemudian saya wariskan kepada adik-adik OSIS ketika dipercaya mewakili sekolah dalam ajang 100 Ketua OSIS Terbaik Indonesia di tahun 2024.
Baca juga : Inspirasi Dari Wahyu Arif: Asa Itu Masih Ada

Kepekaan yang sama mendorong saya melakukan penelitian mengenai keterlibatan perempuan dalam Ritual Tabut Bengkulu. Saya melihat ada peran penting yang jarang mendapat ruang dalam narasi budaya. Penelitian tersebut kemudian saya kembangkan menjadi e-book yang kini dimanfaatkan sebagai bahan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SMAN 5 Kota Bengkulu. Bagi saya, penelitian bukan sekadar mengejar penghargaan, tetapi menghadirkan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Perjalanan menuju IPB University pun tidak berjalan mulus. Saya tiga kali gagal memperoleh beasiswa. Tiga kali pula saya belajar menerima penolakan, mencari mentor, memperbaiki esai, dan mengevaluasi diri. Berhenti hanya akan membuat saya menunda mimpi yang telah lama saya perjuangkan. Hingga akhirnya saya diterima di Program Studi Ilmu Komputer IPB melalui jalur SNBP di tahun 2025 dan lolos seleksi Beasiswa Unggulan. Bagi saya, Beasiswa Unggulan bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. Beasiswa ini memberi ruang untuk berfokus belajar, memperluas kontribusi, dan mengubah pengalaman gagal menjadi bekal bagi orang lain. Kini saya sudah mendampingi lima adik tingkat yang sudah lolos SNBP tahun 2026.Saya ingin mereka tidak perlu mengulang kegagalan yang pernah saya alami, karena setiap kesempatan belajar seharusnya dapat diwariskan.
Semangat tersebut kini saya bawa ke bidang teknologi. Melalui gagasan TaniKarbon, saya berupaya membangun platform digital carbon credit mikro yang menghubungkan industri dengan petani organik. Gagasan ini lahir dari kegelisahan melihat paradoks keberlanjutan: mereka yang menjaga lingkungan justru sering menjadi pihak yang paling sedikit menikmati manfaat ekonomi. Bagi saya, ilmu komputer bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi alat untuk menyelesaikan persoalan sosial.
Ayah memang memulai mimpinya lebih lambat. Namun, ia tidak pernah berhenti melangkah. Kalimat yang ia ucapkan malam itu kini menjadi kompas dalam hidup saya. Jika orang tua saya mewariskan keyakinan bahwa pendidikan mampu mengubah kehidupan seseorang, maka saya ingin memastikan pendidikan yang saya peroleh mampu mengubah kehidupan lebih banyak orang.