Jakarta-Menjadi pendamping siswa penerima bantuan Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) dari awal masuk di kelas X sampai lulus kelas XII membutuhkan perjuangan dan komitmen yang luar biasa. Siswa ADEM yang masih remaja dan pertama kali keluar daerah yang jauh dari keluarga dan berada di lingkungan yang berbeda budaya dan kebiasaan membuat mereka kerap galau, rindu orang tua dan kerap bertindak di luar pengawasan. Selain itu, dari sisi akademik, siswa ADEM, terutama ADEM Papua, kemampuan akademiknya jauh tertinggal di banding teman-temannya di Jawa.
Salah satu pengalaman menghadapi siswa ADEM diungkapkan Rakhmi Oktarini, pendamping siswa ADEM Papua di SMA 1 Bobotsari, Purbalingga, Jawa Tengah.
“Sebenarnya hampir sama seperti menghadapi remaja pada umumnya. Kadang galau ingin pulang ke Papua, tidak mau disiplin, dan malas merawat diri maupun pakaiannya, “ujar Rakhmi.
Untuk mengubah karakter dan kebiasaan yang kurang tepat, siswa ditempatkan di rumah guru. Tujuannya, siswa merasakan kehadiran orang tua dan keluarga yang memperhatikan dan membinanya sehingga ada kontrol pembiasaan positif. Selain itu, siswa dilibatkan dalam kegiatan masyarakat seperti kegiatan sosial, olahraga bersama, dan sebagainya.
Rakhmi juga secara intensif namun dengan suasana bersahabat selalu mengajak berbicara dari hati-ke hati tentang resiko yang harus dihadapi dengan kebiasaan yang tidak disiplin dan malas dan keuntungan yang akan diperoleh siswa bila mampu merubahnya. Namun, sebagai pendamping yang bertanggung jawab, Rakhmi terkadang harus bersikap tegas.
” Jika siswa melakukan pelanggaran tata tertib, akan kami tegur dan memberi sanksi sesuai dengan pelanggarannya melalui surat peringatan bermaterai, “tegasnya.
Untuk merubah dan meningkatkan karakter siswa ADEM, termasuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan, dikatakan Rakhmi, pihaknya juga bekerja sama secara rutin dengan psikolog dan intel dari Polres Purbalingga dengan mengadakan kegiatan pertemuan berupa kegiatan motivasi psikologis dan ideologis.
Terkait upaya meningkatkan prestasi akademik siswa, dikatakan Rakhmi, pihaknya menyelenggarakan matrikulasi untuk Mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia.
“Melalui pendampingan secara intensif, kemampuan akademik siswa meningkat, walaupun ada yang meningkat biasa-biasa saja maupun melejit, namun umumnya prestasi secara umum masih didominasi Non Akademik, “kata Rakhmi yang sudah menjadi pendamping ADEM selama 12 tahun 8 bulan ini.
Sebagai gambaran, lulusan pertama tahun Pelajaran 2015/2016 ada sebanyak 11 siswa yang melanjutkan kuliah melalui program ADIK, bahkan bahkan sudah ada yang melanjutkan S2 menggunakan LPDP di UGM.
Salah satu siswa ADEM yang berhasil menempuh pendidikan di SMA 1 Bobotsari adalah Baim Junicard Rumbekwan. Siswa asal Biak ini berhasil lolos SNBT di Fakultas Hukum Universitas Pattimura, Ambon. Baim saat ini sedang menunggu pengumuman seleksi beasiswa Afirmasi Pendidikan Tnggi (ADIK).
Diakui Baim, program ADEM membuatnya lebih mandiri dan percaya diri dalam beradaptasi di lingkungan yang baru.
“Program ADEM juga membuat saya semakin termotivasi untuk terus belajar dalam mencapai cita-cita, “ujarnya.
Baca juga: ADEM Jadi Jembatan Siswa Dari Daerah 3T Memeroleh Pendidikan Bermutu

Apresiasi guru pendamping ADEM
Pada Malam Tasyakuran Hari Pendidikan Nasional 2026, Rakhmi Oktarini menerima penghargaan sebagai guru pendamping siswa ADEM berdedikasi terbaik ke II. Menurut penanggungjawab program ADEM Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Dwi Permana, penghargaan diberikan pada guru pendamping ADEM yang punya komitmen dan konsistensi mendampingi siswa ADEM agar mandiri, mampu beradaptasi dan mengalami peningkatan kualitas akademik atau non akademik.
“Mereka terbukti memiliki rekam jejak terbaik dalam melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap siswa ADEM di luar tugas utamanya sebagai guru, “kata Dwi.
Menurut Dwi, tugas guru pendamping itu butuh komitmen dan konsistensi dalam membantu siswa ADEM merasa nyaman di lingkungan yang berbeda dengan daerah asalnya, baik dari sisi budaya, kebiasaan dan pergaulannya.
Selain itu, guru pendamping juga dituntut melatih dan mengelola siswa ADEM dalam mengatur waktu, disiplin, manajemen keuangan dan mengatasi persoalan, baik persoalan akademik maupun persoalan pribadi.
“Nilai tambah diberikan bagi pendamping dua program ADEM, misalnya ADEM Papua dan ADEM 3T, sebab siswa ADEM kedua program itu berbeda dari sisi karakter, pembiasaan dan kemampuan akademiknya, “lanjut Dwi.
Ditegaskan Dwi, guru pendamping ADEM mempunyai peran krusial dalam menunjang keberhasilan Program ADEM. karena itu, penghargaan diberikan sebagai apresiasi karena mampu menjaga harapan siswa ADEM yang mengalami hambatan akses pendidikan agar dapat menjalani studi sebaik-baiknya sampai tuntas sehingga menjadi pribadi yang mandiri dan berkarakter.