Jakarta–Beasiswa yang diberikan negara tidak berhenti saat awardee lulus dan diwisuda dan juga bukan saat awardee menyelesaikan laporan penyelesaian studi.
“Ketika negara telah berinvestasi pada seseorang, maka saatnya investasi itu dikembalikan melalui dampak yang diberikan awardee dan bisa dirasakan langsung oleh negara dan masyarakat.”
Demikian dikatakan Wakil Presiden Indonesia,Gibran Rakabuning Raka, saat melepas 150 awardee LPDP dalam Program Alumni Pejuang Digital untuk bertugas di daerah terpencil, tertinggal, dan terdepan (3T) dalam Program Pengabdian Alumni Pejuang Digital di Auditorium Kantor Sekretariat Wakil Presiden, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dikatakan Wapres, pentingnya inovasi metode pembelajaran, khususnya di wilayah 3T, agar proses belajar lebih efektif dan menyenangkan dengan dukungan teknologi.
“Jika pembelajaran terasa membosankan, kita harus menemukan metode yang lebih menarik. Semua harus bisa dibuat menyenangkan. Apalagi saat ini tersedia Interactive Flat Panel (IFP) dari Bapak Presiden. Saya berharap teman-teman dapat membantu mengenalkan dan mendampingi pemanfaatannya,” tuturnya.
Program Alumni Pejuang Digital merupakan hasil kolaborasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dengan tujuan mempercepat transformasi digital di sekolah dasar wilayah 3T.
Direktur Utama LPDP, Sudarto, memaparkan bahwa LPDP telah mendukung puluhan ribu penerima beasiswa dari berbagai jenjang pendidikan, dengan komitmen kuat pada perluasan akses, termasuk daerah afirmasi yang kerap tertinggal dalam arus pembangunan.
“Yang terpenting adalah memastikan bahwa para alumni kembali dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegas Sudarto disambut dengan tepuk tangan meriah para peserta.
Sudarto menegaskan bahwa keberhasilan program LPDP tidak bisa diukur dari angka lulusan atau indeks prestasi semata namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana kontribusi alumni dalam menjawab permasalahan di lapangan melalui ilmu yang sudah dipelajarinya.
Program Alumni Pejuang Digital, dijelaskan Sudarto, merupakan salah satu wujud nyata dari filosofi itu. Program ini juga memperluas pola kolaborasi LPDP dengan berbagai instansi, yaitu Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Saat ini program Alumni Pejuang Digital diarahkan secara khusus untuk memperkuat transformasi digital pendidikan melalui Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) .
Dalam program Alumni Pejuang Digital, para awardee akan bertugas selama 12 Minggu di 150 Sekolah Dasar (SD) pada empat Kabupaten di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yakni Merauke (Maluku Utara), Halmahera Utara (Papua Selatan), Kupang (Nusa Tenggara Timur) dan Sumedang (Jawa Barat).

Bukan menggantikan peran guru
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan kehadiran awardee di daerah 3T bukan untuk menggantikan peran guru melainkan sebagai mitra strategis dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna.
“Peserta hadir bukan sebagai pengganti guru, tetapi sebagai teman belajar digital dan mitra inovasi untuk bersama sama menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik dan relevan bagi murid,” ujar Abdul Muti.
Ia juga menekankan bahwa para alumni LPDP merupakan putra-putri terbaik bangsa yang memilih kembali dan mengabdi setelah menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.
Program ini dirancang dengan 4 fokus utama yaitu pembiasaan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, penguatan kompetensi guru melalui praktik pembelajaran interaktif, pengembangan budaya digital di sekolah, serta penyusunan strategi digitalisasi yang berkelanjutan.Untuk memastikan kesiapan di lapangan, para peserta telah mengikuti pelatihan intensif yang mencakup pedagogi, pengoperasian perangkat digital, kurasi konten pembelajaran, hingga praktik mengajar atau microteaching. Setiap alumni akan ditempatkan di satu sekolah agar pendampingan berlangsung optimal dan berdampak langsung.