Jakarta- Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) bagaikan jembatan bagi siswa SMP di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yakni SMA atau SMK dan berkualitas dan selanjutnya berpotensi melanjutkan ke perguruan tinggi..
“Program ADEM telah membuka jalan bagi saya dan banyak siswa lainnya dari daerah 3T untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik. Kehadiran alumni ADEM diharapkan dapat menjadi motivasi nyata bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan.”
Demikian kesaksian dari .Florensa Stania Rambu Kahi Leba, salah seorang penerima ADEM di SMA 5 Kupang. Florensa sendiri berasal dari Desa Umbu Langang, Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. Kabupaten ini berada di Pulau Sumba. Untuk menuju Kupang, Ibukota Propinsi NTT di Pulau Timor, perlu waktu perjalanan kurang lebih 35 jam dan sebagian besar waktu perjalanan dihabiskan di Laut.
Menurut Florensa, mengikuti ADEM di SMA Negeri 5 Kupang menjadi titik awal perubahan hidupnya. Hidup jauh dari orang tua dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru membentuknya menjadi pribadi yang kuat dan berprestasi.
Lulus SMA tahun 2025, berhasil lolos Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP)pada Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Nusa Cendana, Kupang.

Mencoba ikut seleksi Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK), namun ternyata gagal. Dengan dibantu oleh guru-gurunya saat di SMA, Florensa mengenal adanya Beasiswa Unggulan yang dikelola Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan akhirnya berhasil memperoleh beasiswa.
Bila kelak lulus jadi sarjana, Florensa memiliki keinginan untuk kembali ke daerah asal dan mengabdi. Florensa ingin menjadi inspirasi bagi adik-adik dan teman-temnnya di Desa Umbu Langang bahwa anak dari daerah 3T juga mampu meraih pendidikan tinggi dan mewujudkan cita-cita.
“Saya ingin berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran dan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya di daerah terpencil seperti tempat asal saya,”ujar Florensa.
Baca juga : Melalui Program ADEM, Anak-Anak Papua Ini Lanjutkan Pendidikan S2 di Luar Negeri
Membuka akses pendidikan
Kesaksian lain diungkapkan Beatrix de Etock, penerima beasiswa ADEM di SMAN 2 Kupang. Beatrix berasal dari Desa Pocong, Kecamatan Lambaleda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Butuh waktu 18 jam perjalanan dari Manggarai Timu ke Kupang dengan menggunakan transportasi laut.
Menurut Beatrix, program ADEM sangat membantu membuka akses pendidikan bagi siswa dari daerah 3T untuk mendapatkan kesempatan belajar di luar daerah.
“Melalui program ADEM, siswa dapat memeroleh pengalaman, wawasan, dan motivasi yang lebih luas sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan membawa dampak positif bagi daerah asalnya, “katanya.
Lulus SMA tahun 2025, Beatrix saat ini melanjutkan studi di Program Studi Pendidikan Biologi di Universitas Nusa Cendana.
“Awalnya ikut ADIK, namun gagal, atas informasi, dorongan dan dukungan guru saat SMA, saya daftar Beasiswa Unggulan dan Puji Tuhan saya berhasil, “katanya.
Beatrix memilih Program Studi Pendidikan Biologi karena memiliki minat pada bidang pendidikan dan sains, khususnya biologi. Bila selesai kuliah, Beatrix bertekad untuk kembali ke daerah kelahirannya.

“Saya ingin menjadi seorang guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mampu membimbing dan menginspirasi siswa agar memiliki semangat belajar serta kepedulian terhadap lingkungan dan ilmu pengetahuan, “katanya.
Begitu juga halnya dengan Melania Sasa Anul, remaja belia yang berasal dari Desa di Kabupaten Manggarai Timur, NTT, sebuah kabupaten di pulau Flores. Untuk mencapai Kupang, waktu yang ditempuh kira-kira 13-14 jam perjalanan jika menggunakan darat atau 45-50 menit jika menggunakan pesawat udara.
Melania menjadi siswa penerima ADEM di SMAN 5 Kupang tahun 2022 lalu dan lulus pada tahun 2025. Lulus SMA, Melania mencoba ikut seleksi Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK).
Sayangnya, Melania tidak lolos seleksi, padahal sudah kuliah di prodi akuntansi di Universitas Nusa Cendana.
“Saya sempat putus asa karena dibebani finansial, Lantas saya dapat informasi adanya Beasiswa Ungulan, saya ikuti dan lolos, saya bersyukur sekali sebab ini kesempatan emas, “katanya.
Melania bersyukur bisa mengikuti ADEM, apalagi di sekolahnya di SMAN 5 Kupan, semua penerima ADEM diperhatikan dengan baik.
“Berkat beasiswa ADEM, saya bisa melanjutkan sampai jenjang kuliah, “ujar Melania.
Demikian juga dengan Mosa Leonora Kase, mahasiswi di Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Cendana, Kupang.
“Adanya program ADEM ini membuktikan bahwa anak daerah punya kesempatan yang sama untuk sukses,dan saya sebagai penerima beasiswa ADEM saya senang karena dapat terpilih dari bagian beasiswa ini, “kata Mosa yang memperoleh beasiswa ADEM di SMAN 5 Kupang.
Mosa berasal dari Kota Kecamatan Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Soe termasuk dekat dari Kupang, hanya butuh perjalanan sekitar 2 jam.
Seperti halnya Melania, Florense dan Beatrix, Mosa juga gagal mengikuti ADIK namun akhirnya berhasil memeroleh Beasiswa Unggulan 5.program Beasiswa Unggulan.
“Bila saya tamat nanti, saya kembali ke daerah asal sambil mencari pekerjaan yang menetap di sana atau kerja di Kupang, “ujar Mosa.
ADEM kurangi disparitas pendidikan
Florensa, Beatrix, Melania, dan Mosa merupakan bagian dari 4.616 siswa penerima ADEM pada tahun 2025. ADEM merupakan program afirmasi yang bertujuan mengurangi disparitas atau kesenjangan pendidikan antar wilayah yang disebabkan faktor geografis dan ketersediaan fasilitas pendidikan. Sasaran program ADEM adalah Orang Asli Papua (OAP), Daerah Khusus (3T), dan Anak Pekerja Migran Indonesia (Repatriasi).
Sejak tahun 2013 sampai tahun 2025, berdasarkan data Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) sebagai pengelola ADEM, ada lebih dari 12 ribu siswa yang ikut program ADEM dan sudah meluluskan sekitar 7 ribu siswa. Hampir 50 persen dari sejumlah itu merupakan siswa asal Papua, sisanya adalah siswa dari daerah 3T dan anak dari keluarga Pekerja Migran di Malaysia.
Pada tahun 2025 lalu , sebanyak 4.616 siswa ADEM tercatat masih aktif bersekolah di berbagai sekolah di Jawa dan Bali dengan total realisasi anggaran mencapai Rp90 miliar. Tahun 2026 ini,terjadi peningkatan sasaran ADEM, yakni 5.519, dimana sebanyak 1.501 siswa berasal dari daerah 3T.