Beberapa waktu lalu, Puslapdik menyelenggarakan sayembara menulis Kisah Inspiratif program Puslapdik dan telah diumumkan penulis yang terpilih dari kategori guru, siswa penerima PIP, siswa penerima ADEM, mahasiswa penerima beasiswa Unggulan, dan mahasiswa penerima BPI GTK. Sebagai salah satu bentuk apresiasi, hasil karya tulisnya akan dimuat secara bergiliran di laman Puslapdik.
Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi guru, berdiri di depan puluhan pasang mata murid-murid setiap pagi. Sejatinya, saya lulusan Biokimia IPB, sarjana sains yang menghabiskan waktu-waktunya dengan reaksi enzim, mikroskop, dan spektrofotometer. Bahkan, sebelum menginjakkan kaki di dunia pendidikan, saya sempat menjadi staf Quality Control di sebuah pabrik bumbu, memastikan kadar lada dan garam sesuai standar. Di sela-sela itu, saya juga pernah berjualan sate. Dunia saya adalah angka, logika, laboratorium, dan dagangan—bukan silabus, bukan kurikulum, apalagi psikologi anak.
Namun, pada tahun 2017, takdir membawa saya ke tempat yang paling tidak saya duga: ruang kelas. Awalnya saya mencoba mengajar di sebuah SMK sebagai guru Matematika. Ironis memang, seorang lulusan biokimia mengajar hitungan. Awalnya tidak mulus, penuh liku-liku dan jatuh bangun.Bukan materi pelajaran yang menjadi masalah, tapi yang paling sulit adalah menghadapi tatapan kosong dari siswa-siswa saya. Saat saya menjelaskan rumus-rumus, mereka terlihat tidak peduli. Ada yang sibuk bermain ponsel, ada yang mengantuk, dan ada pula yang hanya diam tanpa ekspresi. Saya merasa gagal. Setiap hari setelah pulang mengajar, saya sering bertanya pada diri sendiri, “Inikah yang saya inginkan?” Saya hampir menyerah dan berpikir untuk kembali ke dunia industri yang lebih steril—di mana saya hanya berhadapan dengan mesin dan sampel, bukan dengan hati manusia yang sulit ditebak.
Namun, ada suara kecil di dalam diri saya yang berkata untuk bertahan. Saya tidak ingin menjadi pecundang. Saya mulai membaca banyak buku tentang pendidikan dan psikologi perkembangan. Saya menyaksikan video-video guru inspiratif dari berbagai belahan dunia. Perlahan, saya mulai menemukan esensi menjadi seorang pendidik. Ternyata, mengajar bukan hanya tentang mentransfer ilmu, melainkan tentang membangun hubungan dan menyalakan semangat.
Saya menunda niat untuk kembali bekerja di perusahaan. Saya memilih untuk berjuang di dunia yang semakin saya cintai ini. Akhirnya, saya pindah ke SMP Cendekia Baznas dan mengajar mata pelajaran IPA—bidang yang sangat dekat dengan passion saya. Di sinilah saya mulai menemukan jati diri sebagai guru STEM yang menggabungkan sains, teknologi, teknik, dan matematika dalam pembelajarannya.
Baca juga : Inspirasi Dari Nia Rizki Amalia: Dari Keterbatasan Menuju Harapan
Tapi, kehidupan tidak selalu berpihak. Tahun 2024 menjadi salah satu tahun tergelap dalam hidup saya. Di luar jam mengajar, saya mencoba berbisnis kecil-kecilan dengan seorang teman. Kami berdua menaruh banyak harapan di situ. Namun, takdir berkata lain, usaha itu gagal total. Saya harus menanggung kerugian finansial yang sangat besar, angka yang rasanya seperti petir di siang bolong. Saya jatuh, kecewa, dan hampir kehilangan seluruh semangat hidup. Pikiran saya kalut. Setiap malam sulit tidur, dan setiap pagi rasanya berat untuk bangun. Dampaknya, kualitas mengajar saya terganggu. Saya sering melamun di tengah kelas. Ada rasa bersalah karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk murid-murid saya, sementara beban pikiran terus membayangi.

Di titik terendah itulah, keajaiban kecil datang berupa cairnya Tunjangan Profesi Guru (TPG). Program yang selama ini saya anggap biasa saja, tiba-tiba terasa seperti oksigen bagi paru-paru yang sesak. Tunjangan profesi yang saya terima bukan sekadar angka di rekening, tetapi lebih dari itu, menjadi jangkar yang menahan saya agar tidak tenggelam lebih dalam. Dengan TPG, saya perlahan bisa mulai bernapas lega. Beban ekonomi yang selama ini mengikat kaki saya mulai terurai. Saya bisa fokus kembali pada urusan hati, yaitu mengajar. TPG telah menyadarkan saya bahwa negara masih hadir untuk para gurunya.
Saya mulai bangkit dengan tekad baru. Saya sadar bahwa anak-anak sekarang adalah generasi digital. Mereka lahir di era gawai dan internet. Maka, saya tidak bisa lagi mengajar dengan metode ceramah monoton seperti sepuluh tahun lalu. Saya mulai mengintegrasikan digitalisasi dan pendekatan STEM ke dalam kelas IPA. Saya mengajak mereka belajar tentang tata surya melalui simulasi virtual, mengenal ekosistem lewat game interaktif, dan memahami reaksi kimia dari video animasi. Bahkan, saya mengembangkan berbagai game edukatif yang bisa mereka akses secara mandiri melalui platform cendekiaedu.id. Saya ingin sains terasa menyenangkan, bukan menakutkan. Saya ingin murid-murid saya tidak hanya menghafal, tetapi mengalami dan merasakan langsung keajaiban ilmu pengetahuan.
Setiap hari saya melihat wajah-wajah polos. Mereka memiliki semangat yang sama seperti saya dulu saat muda, namun seringkali nasib mereka tidak seberuntung anak-anak pada umumnya. Ada yang berasal dari keluarga kurang mampu, ada yang belajar dengan keterbatasan, namun mereka tetap datang ke sekolah dengan senyum.
Saya ingin melihat mereka melampaui saya. Saya tidak cukup hanya mengajarkan rumus-rumus IPA; saya ingin menanamkan keberanian untuk bermimpi besar. Saya ingin mereka percaya bahwa mereka bisa menjadi apa pun, termasuk ilmuwan, penemu, atau teknolog handal, meskipun lahir dari keterbatasan. Bagi saya, dunia pendidikan adalah pabrik yang paling bermakna, karena “produk” yang dihasilkan bukanlah barang mati, melainkan generasi penerus bangsa. Saya bangga menjadi guru. Saya bersyukur, TPG telah membuat saya tetap berada di jalan ini untuk terus menginspirasi. Saya mungkin bukan guru yang sempurna, tetapi saya adalah guru yang terus mencoba, untuk mereka, untuk masa depan. TPG yang saya terima bukan sekadar tunjangan. Ia adalah penolong yang menyelamatkan mimpi saya untuk tetap berada di ruang kelas, menginspirasi, dan melihat generasi muda tumbuh lebih baik dari saya.