Jakarta– Artificial Intelligence atau AI merupakan produk machine learning, algoritma, dan teknologi. Dengan pemikiran itu, dalam dunia pendidikan, AI harus diposisikan hanya sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti peran guru.
“Pendidikan tetap tentang membangun karakter manusia yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, manusia yang mampu mengendalikan teknologi, serta menggunakan teknologi untuk kemaslahatan sesama dan kesejahteraan bumi kita.
Hal itu dikatakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah,Abdul Mu’ti, dalam seminar internasional dengan tema Navigating the Future: English language Education with AI and the evolving Role of Educators yang digelar di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), Jakarta, beberapa waktu lalu.
Pernyataan Abdul Mu’ti tersebut diperkuat Guru Besar Bahasa Inggris UHAMKA, Herri Mulyono. Melalui kajiannya, Herri menjelaskan, bahwa integrasi AI dalam pembelajaran tidak boleh menggeser peran guru dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator berpikir kritis, refleksi etis, dan kesadaran budaya. Ia juga mengingatkan risiko ketergantungan berlebihan pada AI serta pentingnya penguatan identitas profesional guru.
Sementara itu, pendiri ClarityEnglish, Andrew Stokes, dalam paparan berbasis riset dan praktik kelas, menekankan bahwa AI sebaiknya dimanfaatkan untuk mendukung tugas-tugas mikro pembelajaran, seperti asesmen, materi personal, dan pengayaan kosakata. Namun, ia menegaskan bahwa relasi manusia, pengelolaan kelas, dan pembentukan karakter tetap menjadi wilayah yang tidak dapat digantikan teknologi.
Baca juga : Pentingnya Keadaban Digital di Tengah Perkembangan AI
Dari perspektif global, Guru Besar Emeritus Universitas Asia dari Taiwan, Yinghuei Chen, menyoroti bahwa kehadiran AI generatif justru meningkatkan urgensi pendidikan Bahasa Inggris. Dalam risetnya, ia menegaskan bahwa di tengah melimpahnya teks yang dihasilkan mesin, kemampuan membaca kritis, menafsir makna, dan memahami konteks lintas budaya menjadi kompetensi kunci yang harus dikembangkan melalui pendidikan bahasa.
Pandangan tersebut dilengkapi oleh dosen yang juga pengajar ahli ITB, Anuncius Gumawang Jati, yang menekankan pendekatan pedagogy-first dalam pemanfaatan AI.
“Teknologi harus mengikuti tujuan pendidikan, bukan sebaliknya, serta digunakan untuk memperkuat keadilan, autentisitas pembelajaran, dan agensi guru, “tegasnya.