Jakarta– Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemen dikdasmen)mulai menyalurkan tunjangan khusus bagi guru terdampak bencana banjir dan tanah longsor yang melanda 52 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Selain itu, tunjangan khusus juga diberikan bagi guru terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Jawa Timur.
Kemendikdasmen telah menerbitkan Peraturan Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen No 24 Tahun 2025 sebagai revisi atas Peraturan Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen No 1 Tahun 2025 Tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan penyaluran Tunjangan Profesi dan Tunjangan Khusus Guru Bukan Aparatur Sipil Negera Tahun Anggaran 2025. Dalam Persesjen tersebut memuat, Tunjangan Khusus Guru diberikan bagi guru yang mengajar di daerah khusus, yakni daerah terpencil, terbelakang, perbatasan dengan negara lain, daerah terluar serta daerah terkena bencana alam, bencana sosial atau daerah yang mengalami kondisi darurat.
Berdasarkan data Kemendikdasmen,tercatat sebanyak 16.476 pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi sasaran penerima tunjangan khusus dengan besaran Rp2 juta per guru. Total anggaran yang disiapkan pemerintah sebesar Rp32,9 miliar. Penyaluran tunjangan khusus itu akan dilakukan secara bertahap mulai Desember 2025 sampai Februari 2026. Hal itu sebagai bentuk dukungan negara atas dedikasi para guru yang tetap menjalankan tugas pendidikan di tengah situasi darurat serta untuk membantu meringankan beban ekonomi akibat bencana.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan, pemerintah hadir untuk memastikan pendidikan darurat dapat berjalan, sekaligus memberikan dukungan bagi para guru yang tetap mengabdi di wilayah terdampak.

Baca juga : Kemendikdasmen Terapkan Pembelajaran Berjenjang di Daerah Bencana
Wujud kepedulian pemerintah
Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemendikdasmen, Suharti, mengatakan bahwa upaya ini sebagai wujud kepedulian atas penderitaan PTK yang terdampak bencana. “Akhir tahun yang bagi sebagian orang bisa dinikmati dengan hangat penuh suka cita berkumpul bersama keluarga, namun saat ini menjadi momen yang sangat memprihatinkan bagi saudara-saudara kita, khususnya para pendidik dan tenaga kependidikan di beberapa lokasi yang terdampak bencana,” ungkapnya di Jakarta, Kamis (25/12).
Menurut Suharti, tunjangan khusus bagi guru ini disalurkan untuk sedikit meringankan beban mereka.
“Semoga bantuan kepedulian di akhir tahun ini bisa menjadi penyemangat dan menandai kehadiran pemerintah untuk terus ada membersamai saudara-saudara kita melewati masa pemulihan ini dengan keyakinan penuh pada Tuhan dan rasa optimis,” lanjutnya.
Jumlah PTK yang terdampak dari masing-masing jenjang dan bantuannya adalah sebagai berikut. Untuk jenjang PAUD, ada 915 pendidik yang terdampak dan mendapatkan total bantuan sebesar Rp1,8 miliar. Untuk jenjang pendidikan dasar jumlah pendidik yang terdampak bencana mencapai 10.274 dengan jumlah bantuan yang diberikan sebesar Rp20,5 miliar. Untuk jenjang pendidikan menengah jumlah pendidik yang terdampak sebanyak 5.258 dengan bantuan yang diberikan sebesar Rp10,5 miliar. Sedangkan jumlah tenaga pendidik terdampak sebanyak 20 orang. Adapun untuk tenaga kependidikan, 3 orang di Provinsi Aceh dan 17 orang lainnya di Provinsi Sumatra Barat mendapatkan bantuan masing-masing sebesar Rp2 juta.
Wendi Kuswandi, Koordinator Tim Kerja Aneka Tunjangan Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) Kemendikdasmen mengatakan, guru di daerah bencana akan menerima tunjangan khusus bila terdata di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) serta tercatat mengajar sebelumnya di daerah 3T yang terkena bencana.
“Mekanismenya, verifikasi dan validasi (Verval) tetap dilakukan namun tidak semua syarat harus dipenuhi guru, yang penting terdata di Dapodik dan tercatat mengajar di daerah 3T yang terdampak bencana, “kata Wendi.
Ditambahkan Wendi, guru-guru yang terdampak bencana di 3 propinsi itu akan menerima TKG sebesar 1 bulan.
“Penyaluran tahap pertama sudah dimulai per tanggal 24 Desember 2025 ini dan terus secara bertahap, “ungkapnya.
Berdasarkan data sementara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per Minggu, 14 Desember 2025 pukul 17.00 WIB, sebanyak 276.249 siswa serta 25.936 guru dan tenaga kependidikan terdampak bencana ini. 15 guru dan 52 siswa teridentifikasi meninggal dunia, sementara sejumlah lainnya mengalami luka-luka dan masih berada di lokasi pengungsian. Selain itu, tercatat 3.274 satuan pendidikan terdampak bencana, mulai dari jenjang PAUD hingga pendidikan nonformal. Dampak tersebut meliputi 6.431 ruang kelas rusak, serta kerusakan pada bangunan pendukung dan fasilitas sanitasi sekolah.
Baca juga: Kemendikasmen Pastikan Terjaminnya Pembelajaran di Wilayah Terdampak Bencana

Prioritaskan Hal belajar siswa terpenuhi
Berdasarkan hasil pendataan kebutuhan di lapangan, Kemendikdasmen telah menyiapkan dan menyalurkan bantuan pendidikan darurat dalam bentuk barang berupa 2.873 unit ruang kelas darurat untuk mendukung keberlangsungan pembelajaran sementara, 141.335 paket perlengkapan belajar siswa yang meliputi buku, alat tulis, tas, seragam, dan sepatu, serta 16.239 paket perlengkapan keluarga guna menunjang kebutuhan dasar warga satuan pendidikan selama masa tanggap darurat dan pengungsian.
Kemendikdasmen juga menyalurkan bantuan keuangan pendidikan melalui mekanisme yang berlaku guna mendukung pemulihan layanan pendidikan di satuan pendidikan terdampak. Bantuan keuangan tersebut dimanfaatkan untuk mendukung operasional pendidikan darurat, pemulihan sarana pembelajaran, serta pemenuhan kebutuhan mendesak lainnya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan.
Seluruh upaya tersebut dilaksanakan melalui koordinasi erat dengan pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan terkait. Kemendikdasmen terus melakukan pemutakhiran data dan verifikasi secara berkala, mengingat masih terdapat wilayah yang sulit dijangkau akibat keterbatasan akses dan jaringan, khususnya di beberapa daerah di Aceh dan Sumatra Utara.
Pemulihan layanan pendidikan akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan seiring dengan perbaikan infrastruktur serta kondisi wilayah terdampak. Pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong mendukung keberlangsungan pendidikan anak-anak di daerah terdampak bencana, agar proses belajar mengajar tetap berjalan dan masa depan generasi penerus bangsa tetap terjaga.