Jakarta– Kecerdasan artifisial (AI) kini telah menjadi bagian dari peradaban manusia. Perkembangan AI telah memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan manusia, mulai dari pendidikan, riset, dunia kerja, hingga cara manusia memperoleh dan mengolah pengetahuan. Menyadari hal itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong transformasi pendidikan agar adaptif terhadap perkembangan AI sebagai bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti saat menjadi pembicara kunci dalam Karangmalang Education Forum: AI dan Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Semua yang digelar di Ballroom Gedung IKA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
“Namun, penting kita perlu memiliki kompetensi digital dan terutama digital civility atau keadaban digital. Tanpa etika, pemanfaatan AI justru bisa menjadi sumber persoalan sosial baru,” ujar Mendikdasmen.
Di sisi lain, Abdul Mu’ti juga memberi harapan, bahwa dari berbagai kajian global menunjukkan, meskipun AI berpotensi menggantikan sejumlah jenis pekerjaan, pada saat yang sama teknologi ini juga membuka berbagai peluang baru.
“Yang terdampak adalah mereka yang tidak menguasai teknologi. Tetapi mereka yang menguasai AI justru akan menjadi semakin berdaya. Karena itu, pendidikan memiliki peran strategis untuk memastikan generasi muda tidak tertinggal,” ujar Abdul Mu’ti.

Baca juga : Tahun 2026, Kemendikdasmen Lanjutkan Tingkatkan Kompetensi dan Kesejahteraan Guru
Kebenaran informasi
Dijelaskan Abdul Mu’ti, AI pada dasarnya bekerja dengan menghimpun dan merangkum informasi dan data yang diunggah manusia di internet. Karena itu, persoalan kebenaran informasi dan data menjadi tantangan yang sangat penting. Jika data yang masuk tidak akurat atau tidak etis, maka keluaran AI juga berpotensi menyesatkan.
“AI bisa sangat cerdas, tetapi ia tidak memiliki hati dan kesadaran moral. Maka tanggung jawab manusialah untuk memastikan bahwa informasi dan data yang diunggah, diproduksi, dan kemudian diolah AI adalah sesuatu yang benar dan baik,” katanya.
Abdul Muti juga menyoroti dampak negatif munculnya AI berupa maraknya manipulasi digital, seperti pemalsuan gambar, suara, dan narasi yang berpotensi merusak reputasi seseorang. Di era scroll society , ketika masyarakat cenderung membaca secara cepat dan dangkal, konten semacam ini mudah dipercaya dan disebarluaskan.
“Karena itu, etika, tata krama, dan literasi digital harus menjadi bagian penting dari pendidikan kita,” tambah Menteri Mu’ti.
Pendidikan AI dan Coding
Untuk mengantisipasi perkembangan AI dan dampak negatifnya, Kemendikdasmen telah mulai mengintegrasikan AI dan coding sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah, dimulai dari kelas V SD. Kebijakan tersebut dirancang secara bertahap agar sejalan dengan kesiapan guru dan infrastruktur satuan pendidikan.
“Kami mulai dari mata pelajaran pilihan karena guru harus kita latih terlebih dahulu. Jika sudah siap, ke depan bisa diperluas. Yang penting, anak-anak kita tidak hanya diajari teknologinya, tetapi juga nilai dan etika dalam menggunakannya,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pendidikan karakter dan nilai tetap menjadi fondasi utama, termasuk dalam pembelajaran berbasis AI. Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri, melainkan terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran dan budaya sekolah.
“AI harus kita posisikan sebagai alat untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya. Pendidikan Indonesia harus kita arahkan agar tetap relevan dengan dunia yang terus berubah, namun tetap berpijak pada nilai, karakter, dan keadaban,” pungkas Menteri Mu’ti.
Sebelumnya, dalam paparannya pada Seminar Nasional Fakultas Ilmu Tabriyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pertengahan tahun 2025 lalu, Abdul Muti menegaskan, secanggih apapun teknologi, kendali tetap berada di tangan manusia. “Teknologi bisa membuat orang cerdas, tapi juga bisa membuat orang culas. Teknologi bisa mempercepat pekerjaan, tapi juga bisa mengurangi kemanusiaan,” ujarnya.
Baca juga : Mendikdasmen Paparkan Sejumlah Rencana Program Prioritas Tahun 2026

Metode pembelajaran AI
Dalam pendidikan, menurut Abdul Mu’ti, AI memiliki potensi besar dalam mendukung proses belajar mengajar, namun pentingnya penggunaan AI yang terarah dan tetap diselaraskan dengan metode pembelajaran lainnya.
Menurut Mu’ti, AI bisa menjadi metode yang menarik dalam pengajaran. Dia mencontohkan seorang guru Bahasa Inggris yang memanfaatkan teknologi ini untuk membuat proses belajar lebih interaktif.
“Selain menjadi sebuah metode yang menarik, kelebihan dari AI adalah bisa memberikan layanan pendidikan yang cepat karena akselerasi. Akses itu bisa diperoleh murid dibanding dengan dia membaca buku,” ujarnya.
Meski demikian, Abdul Mu’ti juga mengingatkan AI memiliki kelemahan yang perlu diwaspadai karena aksesnya dengan mudah dan cepat tersebut. “Kelemahannya ada dua. Yang pertama, bisa jadi informasi yang diperoleh itu belum tentu informasi yang benar, sehingga memang penggunaan AI ini tetap perlu dipandu oleh para guru,” katanya.
Selain risiko disinformasi, Mu’ti juga menyoroti potensi ketergantungan pada teknologi yang dapat melemahkan pembelajaran aktif. Untuk itu, siswa tetap perlu didorong membaca buku, baik cetak maupun digital, serta mengikuti pembelajaran kontekstual, seperti permainan atau pengenalan benda-benda sekitar untuk memahami konsep matematika.
“Tadi dicontohkan ada permainan yang mengkontekstualisasikan materi-materi pelajarannya dengan kehidupan sehari-hari, atau bagaimana mengajarkan matematika dengan mengenalkan berbagai benda yang ada di sekitar murid, kemudian dijelaskan bagaimana hubungan benda-benda itu dengan ilmu-ilmu atau rumus-rumus atau teori di dalam matematika,” tuturnya.
Karena itu, Abdul Muti menegaskan, peran guru dan pendidik yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi. “Kehadiran guru tetap menjadi sentral dalam proses pendidikan karena pendidikan bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter,” tegasnya.