Jakarta-Minat peserta didik lulusan SMA/SMK untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Indonesia masih berada pada tingkat yang rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Menurut data UNESCO (2023), Gross Enrollment Ratio (GER) pendidikan tinggi di Indonesia berada pada kisaran 36–38%, tertinggal dari Malaysia yang sudah melampaui 50%, serta Korea Selatan yang hampir mencapai 95%. Rendahnya tingkat partisipasi ini mencerminkan masih kuatnya hambatan struktural, kultural, dan keterbatasan informasi yang menghalangi banyak siswa—terutama dari keluarga berpenghasilan rendah—untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Tantangan ini semakin terlihat pada lulusan SMA dan SMK penerima Program Indonesia Pintar (PIP). Meskipun pemerintah menyediakan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah sebagai fasilitas pembiayaan pendidikan tinggi, tingkat pemanfaatannya belum optimal. Dari 975.933 siswa penerima PIP kelas akhir yang lulus pada tahun 2025, hanya 215.967 siswa atau kurang dari 22,1% yang melanjutkan pendaftaran KIP Kuliah. Bahkan terdapat kabupaten/kota dengan angka pendaftar di bawah 10%, dan sebagian bahkan tidak memiliki pendaftar sama sekali.
Melihat kondisi tersebut, Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) mengambil inisiatif strategis untuk memperluas akses informasi kepada para penerima PIP. Inisiatif ini dilakukan sebagai langkah harmonisasi Program Indonesia Pintar dalam ekosistem pendidikan, sekaligus bentuk kepedulian terhadap siswa kelas akhir SMA/SMK yang akan segera lulus namun belum memahami jalur melanjutkan pendidikan tinggi serta potensi pembiayaan yang tersedia.
Penentuan lokasi pelaksanaan giat ini bukan tanpa alasan. Puslapdik memilih daerah dengan tingkat pemanfaatan KIP Kuliah paling rendah sebagai sasaran intervensi, memastikan kegiatan ini tidak bersifat seremonial, tetapi benar-benar menyasar akar persoalan keterbatasan informasi. Dengan strategi tersebut, kegiatan “Ayo Lanjut Kuliah” diarahkan untuk menutup kesenjangan akses, memperluas kesempatan, dan memberikan keyakinan bagi siswa dari keluarga kurang mampu bahwa pendidikan tinggi merupakan pilihan yang mungkin dan terjangkau.
Baca juga : Penerima PIP Dikdasmen Jadi Prioritas Penerima KIP Kuliah

PELAKSANAAN GIAT DI 12 KABUPATEN
Pelaksanaan kegiatan giat “Ayo Lanjut Kuliah” resmi tuntas dilaksanakan pada tiga gelombang sejak November 2025 hingga Januari 2026, dengan sasaran utama penerima PIP jenjang SMA/SMK kelas akhir. Kegiatan ini menjadi instrumen penting dalam menyampaikan informasi pembiayaan pendidikan tinggi bagi siswa yang selama ini berada dalam kategori paling berisiko tidak melanjutkan pendidikan.
Dalam pelaksanaannya kegiatan ini dilakukan secara bertahap di 12 kabupaten terpilih. Gelombang 1 digelar pada Sabtu, 1 November 2025 di Kab. Cianjur, Kab. Pemalang, Kab. Sukabumi, dan Kab. Malang. Pelaksanaan Gelombang 2 berlangsung pada Sabtu, 8 November 2025 di Kab. Buleleng, Kab. Karangasem, Kab. Lampung Tengah, dan Kab. Lampung Selatan. Gelombang 3 telah direncanakan untuk dilaksanakan pada Sabtu, 17 Januari 2026 di Kab. Asahan, Kab. Kuburaya, Kab. Sanggau, dan Kab. Lahat.
Di setiap kabupaten, Puslapdik mengundang 20 sekolah SMA/SMK sebagai peserta kegiatan. Setiap sekolah mengirimkan 15 siswa penerima PIP dan satu orang guru pendamping, sehingga terdapat total 300 siswa dan 20 guru pada tiap lokasi. Dengan pelaksanaan di 12 kabupaten, jumlah peserta keseluruhan mencapai 3.600 siswa.
Rendahnya angka pendaftar KIP Kuliah (22,1%) dari total penerima PIP menjadi alasan utama dilaksanakannya kegiatan ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa diperlukan upaya penyampaian informasi secara langsung kepada siswa, keluarga, dan pihak sekolah, terutama di daerah yang masih memiliki partisipasi pendidikan tinggi yang rendah, agar dapat meningkatkan pengetahuan dan motivasi siswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
Baca juga: Praktik Baik Pengelolaan PIP: Memastikan Uang Diterima Utuh Oleh Siswa
PERAN PEMERINTAH DAERAH DAN SEKOLAH
Kegiatan “Ayo Lanjut Kuliah” mendapat dukungan penuh dari Kantor Cabang Dinas Pendidikan (KCD) di setiap daerah. KCD berperan penting dalam mobilisasi peserta dan koordinasi dengan sekolah sehingga pelaksanaan kegiatan berjalan lancar dan tepat sasaran.
Sekolah pun menunjukkan antusiasme tinggi, mulai dari inisiatif guru dalam mencari informasi kegiatan, penambahan peserta, hingga penyediaan fasilitas seperti kendaraan untuk transportasi siswa ke lokasi acara. Kehadiran guru pendamping yang aktif selama sesi materi dan diskusi turut meningkatkan kenyamanan dan kesiapan siswa. Sinergi antara KCD, sekolah, dan panitia ini memastikan materi dapat diterima dengan baik dan memberikan dampak optimal bagi para peserta.
Kolaborasi ini menjadi faktor kunci keberhasilan karena memastikan informasi tentang pendidikan tinggi tersampaikan lebih luas kepada siswa penerima PIP, khususnya di sekolah-sekolah yang membutuhkan akses informasi pembiayaan kuliah.

MATERI INTI DAN OUTPUT PEMBELAJARAN
Kegiatan dilaksanakan dengan konsep lesehan yang menciptakan suasana santai namun tetap menjaga unsur formalitas, sehingga mendorong interaksi aktif antara siswa dan narasumber. Pendekatan ini terbukti efektif memperkuat komunikasi dua arah, khususnya selama sesi tanya jawab yang berlangsung hidup sepanjang acara.
Materi kegiatan disusun secara berurutan, dimulai dari pemahaman dasar tentang jenis-jenis perguruan tinggi, jalur penerimaan (SNBP/SNBT/mandiri), serta pilihan program studi bagi siswa. Tahap awal ini menjadi landasan penting agar peserta mampu memahami karakter setiap lembaga pendidikan tinggi dan mengarahkan pilihan studi sesuai bakat, minat, serta potensi daerah asal mereka.
Di sejumlah lokasi, perguruan tinggi setempat seperti Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) turut hadir untuk memberikan gambaran nyata mengenai peluang melanjutkan studi di daerah, termasuk kesesuaian program studi dengan kebutuhan dunia kerja. Informasi ini menegaskan bahwa kuliah tidak harus selalu dilakukan di kota besar, karena pilihan di daerah pun mampu menawarkan kualitas pendidikan yang kompetitif.
Kegiatan ini juga memperkenalkan Universitas Terbuka (UT) sebagai pilihan pendidikan tinggi yang menawarkan sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh, sehingga sesuai bagi siswa yang memiliki keterbatasan finansial maupun geografis. Setelah itu, peserta memperoleh penjelasan lebih rinci mengenai berbagai skema pembiayaan, termasuk beasiswa dari APBN, BUMN, Pemerintah Daerah, hingga lembaga swasta yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan masing-masing.
Sebagai penutup, narasumber menekankan pentingnya pengembangan potensi diri dalam menghadapi era globalisasi dan digital, termasuk literasi teknologi, komunikasi, kolaborasi, dan kesiapan kerja. Siswa menyadari bahwa pendidikan tinggi bukan hanya gelar, tetapi modal strategis untuk meningkatkan daya saing dan kesejahteraan sosial-ekonomi.
Selain itu, dalam rangka memastikan efektivitas kegiatan, Puslapdik juga melaksanakan pre-test dan post-test kepada seluruh peserta. Pre-test digunakan untuk memetakan pemahaman awal siswa mengenai jalur masuk perguruan tinggi, jenis perguruan tinggi, serta skema pembiayaan yang tersedia. Setelah seluruh materi disampaikan, siswa mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan mereka. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada aspek pemahaman, terutama terkait KIP Kuliah, jalur seleksi, dan pilihan program studi. Selain itu, siswa mengaku lebih percaya diri dan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai langkah yang harus ditempuh setelah kelulusan. Temuan ini menegaskan bahwa kegiatan “Ayo Lanjut Kuliah” tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga terbukti memberikan dampak nyata dan terukur terhadap kesiapan siswa dalam merencanakan pendidikan tinggi.

KESIMPULAN
Pelaksanaan giat “Ayo Lanjut Kuliah” di 4 provinsi dan 12 kabupaten berhasil memenuhi tujuan strategis Puslapdik Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) dalam memperluas akses informasi mengenai pendidikan tinggi bagi penerima Program Indonesia Pintar (PIP). Kegiatan ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang jalur masuk perguruan tinggi, pilihan program studi, serta berbagai skema pembiayaan, termasuk pemanfaatan KIP Kuliah dan alternatif pendanaan lainnya. Intervensi yang dilakukan secara langsung di daerah dengan tingkat pemanfaatan KIP Kuliah terendah ini berhasil meningkatkan literasi pendidikan tinggi bagi siswa SMA dan SMK. Selain itu, kegiatan ini memperkuat keyakinan siswa dari keluarga kurang mampu bahwa melanjutkan kuliah merupakan kesempatan yang terbuka dan terjangkau.
Melalui kegiatan ini, Puslapdik menegaskan komitmennya dalam memperluas pemerataan akses pendidikan, mengurangi kesenjangan informasi, serta meningkatkan partisipasi siswa dalam pendidikan tinggi. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi strategis untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.