Jakarta– Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendirikan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) karena di sekolah umum yang sudah berjalan selama ini, peserta didik dengan berbagai latar belakang ekonomi serta kemampuan intelektual dan fisik belajar bersama dalam lingkungan sekolah inklusif dan heterogen. Kondisi tersebut membuat anak-anak dengan kemampuan tinggi tidak selalu dapat berkembang secara maksimal karena guru perlu menyesuaikan ritme pembelajaran dengan kondisi kelas yang heterogen.
“SNT ini mengisi ruang kosong yang belum mampu disediakan oleh sekolah-sekolah standar yang ada selama ini. Kedua, SNT menyediakan sekolah bermutu secara lebih merata karena setiap kabupaten ada sekolah unggul. Nanti ke depan sekolah ini akan menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain menyangkut mutu, sistem pembelajaran, dan lain-lain.”
Hal itu dikatakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Muti, di Jakarta, 30 Agustus kemarin.
Dikatakan Abdul Muti, SNT memberikan layanan pendidikan yang unggul bagi murid yang memiliki kemampuan dan bakat istimewa, baik dalam bidang akademik maupun olahraga, seni, atau bidang keunggulan lainnya.
Dikutip dari https://snt.kemendikdasmen.go.id/, SNT memiliki tiga pilar, yakni Pembelajaran yang berkesinambungan, yakni pembelajaran mulai dari kelas VII sampai kelas XII dilakukan sebagai siklus yang berkesinambungan, bukan jenjang terpisah. Pilar kedua adalah mutu yang merata, yang artinya murid yang bertalenta diberi akses dan dukungan bermutu walaupun berada dalam lingkungan yang heterogeny atau inklusif. Sedangkan pilar ketiga adalah dampak terhadap lingkungan sekitar yang artinya SNT menjadi hub mutu, talenta, praktik baik, dan sumber daya untuk sekolah sekitar.
Salah satu konsep SNT adalah ekosistem yang dibangun mencakup sekolah, guru, keluarga, daerah, mitra dan jejaring.

Pada tahun 2026 ini, sebanyak 17 SNT mulai dibuka di sejumlah provinsi dan kabupaten di Indonesia. Untuk sementara, proses pembelajaran dilaksanakan di sekolah transit karena sekolah yang direncanakan dibangun di lahan seluas 10 hingga 20 hektare tersebut masih dalam proses pembangunan. Pembangunannya ditargetkan mulai pada akhir tahun ini.
Pada 6 Agustus lalu, saat melantik 17 kepala sekolah SNT,Abdul Mu’ti, menegaskan, SNT merupakan komitmen pemerintah untuk menghadirkan layanan pendidikan yang lebih sesuai dengan karakteristik peserta didik berbakat sehingga mereka dapat berkembang secara optimal.
Menurut Abdul Muti, SNT dibangun bukan untuk menciptakan eksklusivitas dalam pendidikan, melainkan memberikan ruang belajar yang sesuai dengan kemampuan peserta didik sekaligus menjadi sekolah rujukan yang mampu menghadirkan praktik-praktik terbaik dalam penyelenggaraan pendidikan.
Dikatakan Abdul Muti, Kepala Sekolah SNT memiliki peran sentral dalam menentukan keberhasilan Program SNT melalui kepemimpinan yang berintegritas, visioner, dan berorientasi pada peningkatan mutu pembelajaran.
“Kepala sekolah diharapkan mampu membangun budaya belajar yang berkualitas, inklusif, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan berpihak kepada murid, “kata Abdul Muti.