Jakarta- Skor murid Indonesia dalam hal kemampuan membaca dan sains mengalami peningkatan, namun menurun dalam skor matematika berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada Selasa, 8 September kemarin.
Dalam rilis PISA 2025 itu ditunjukkan, skor sains naik 6 poin, dari 383 pada PISA 2022 menjadi 389. Begitu juga skor membaca juga naik 6 poin, dari 359 tahun 2022 menjadi 365. Sementara itu, skor matematika berada di angka 364 atau turun 2 poin dari tahun 2022 yang mencapai 366.
Skor sains dan matematika yang diraih murid Indonesia itu mengesankan bila dibandingkan dengan skor di sebagian besar negara OECD yang mengalami penurunan. Pada sains yang menjadi fokus penilaian PISA 2025, rata-rata prestasi murid di seluruh negara peserta OECD mengalami penurunan 7 poin dibanding tahun 2015, namun stabil di antara negara-negara non OECD. Penurunan lebih tajam nampak pada matematika yang menurun sebesar 22 poin di negara-negara OECD dan non OECD. Namun penurunan paling tajam terjadi paa bidang membaca, yakni turun 28 poin di seluruh negara OECD dan 16 poin diantara negara non OECD.
Menurut Mathias Cormann, Sekretaris Jenderal OECD, tren penurunan di bidang membaca ini sangat mengkhawatirkan karena keterampilan membaca mendukung proses pembelajaran dan sangat penting dalam hal menemukan, mengevaluasi,menafsirkan dan merefleksikan informasi di dunia yang semakin digital.
Hasil PISA 2025 juga menunjukkan, sekitar 20 persen murid berusia 15 tahun di negara-negara OECD berprestasi rendah di ketiga bidang tersebut. Menurut Cormann, hal tersebut menyebabkan para murid akan kekurangan keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk berhasil dalam pendidikan lanjutan, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
PISA 2025 diikuti 91 negara dan melibatkan lebih dari 760 ribu murid sampel yang mewakili sekitar 33 juta murid berusia 15 tahun di seluruh dunia. PISA 2025 berfokus pada sains, disamping membaca dan matematika serta penilaian inovatif terhadap pembelajaran digital.

Menurut Toni Toharudin, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, skor yang diraih Indonesia itu menunjukan performa pendidikan Indonesia relatif stabil.
Selanjutnya, pencapaian yang diraih Indonesia itu semakin berarti bila melihat Coverage Index, yaitu proporsi murid usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal. Pada keikutsertaan pertama PISA 2003, Coverage Index Indonesia baru 0,46. Pada PISA 2025, angka ini melonjak hampir dua kali lipat menjadi 0,90.
“Ini menjadi bukti perluasan akses pendidikan yang signifikan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk sejak Indonesia beralih penuh dari moda paper based test (PBT) ke computer based test (CBT) mulai PISA 2018, “kata Toni.
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, mengapresiasi capaian Indonesia yang dinilai berhasil mengatasi tantangan yang masih dihadapi banyak negara yaitu memperluas akses pendidikan tanpa mengorbankan kualitas.
Data OECD menunjukkan bahwa murid usia 15 tahun di Indonesia memiliki tingkat keingintahuan yang termasuk salah satu yang tertinggi, serta telah mengembangkan kemampuan belajar secara mandiri.
Murid Indonesia juga menunjukkan capaian yang lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional dibandingkan pada mata pelajaran yang lebih konvensional, dan lebih sering terlibat dalam pembelajaran menilai kredibilitas konten yang dihasilkan kecerdasan artifisial (AI) dibandingkan murid di banyak negara lain di dunia.