Jakarta- Kemampuan literasi saat ini tidak cukup dimaknai sekedar kemampuan membaca dan menulis. Di tengah perubahan sosial, krisis lingkungan, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau AI yang tidak bisa dibendung, literasi saat ini harus dimaknai secara lebih luas sebagai kemampuan untuk memahami informasi secara kritis, berpikir reflektif terhadap konten yang dikonsumsi, terus belajar sepanjang hayat, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan dan lingkungan.
Demikian dikatakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Muti, saat peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) 2026, beberapa waktu lalu.
Pernyataan Abdul Muti tersebut lebih diperjelas oleh Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin. Beliau mengatakan, ketika dunia berubah maka literasi pun harus terus berkembang.
“Dulu kita berjuang agar setiap orang bisa membaca dan menulis. Hari ini tantangannya lebih luas lagi. Kita harus mampu membaca informasi, memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan, berpikir kritis menggunakan teknologi, dan menggunakan kecerdasan buatan secara bijak dalam mengambil keputusan serta terus belajar sepanjang hayat,” tegasnya.
Pendek kata, lanjut Tatang, literasi saat ini harus membuat manusia semakin berdaya, mampu hidup bersama secara bermartabat, memahami keterhubungan dengan lingkungan, serta memiliki kecakapan untuk membangun kehidupan.
Makna literasi yang diucapkan Abdul Muti dan Tatang Muttaqin itu merupakan penafsiran dari tema HAI tahun 2026 ini yang ditetapkan Unesco, yakni “Literacy for People, the Planet and Prosperity” yang lantas oleh Indonesia diadaptasi menjadi “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera.”
Baca juga : PISA 2025, Skor Indonesia Meningkat di Sains dan Membaca, Namun Turun di Matematika

Korelasi HAI dan PISA
Tema HAI 2026 tersebut lantas berkorelasi dan menemukan relevansinya dengan hasil Programme for International Student Assessment atau PISA 2026 yang dilaksanakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) bidang pendidikan, sebuah lembaga internasional yang membantu negara-negara merancang kebijakan untuk meningkatkan mutu belajar, keterampilan, dan sistem sekolah.
PISA merupakan program evaluasi pendidikan global untuk mengukur kemampuan murid yang oleh OECD difokuskan pada tiga kemampuan dasar, yakni sains, matematika, dan literasi atau membaca. PISA yang diselenggarakan sejak tahun 2000 dan dilakukan setiap 3 tahun sekali itu bertujuan mengukur kemampuan murid usia 15 tahun dalam menerapkan pengetahuan pada kehidupan nyata sekaligus mengevaluasi kebijakan pendidikan negara-negara peserta PISA.
PISA 2025 diikuti lebih dari 760.000 murid yang mewakili sekitar 33 juta anak berusia 15 tahun di sekolah-sekolah di 91 negara dan wilayah ekonomi. Sedangkan di Indonesia, penilaian PISA diikuti sebanyak 14.168 murid di 419 sekolah yang mewakili sekitar 3.995.000 murid berusia 15 tahun atau sekitar 90% dari total populasi murid berusia 15 tahun.
PISA 2026 yang dirilis OECD pada 8 September kemarin, menunjukkan terjadinya penurunan kemampuan murid pada bidang matematika, dan membaca, walaupun cenderung stabil di bidang sains. Di bidang matematika, di seluruh negara peserta OECD, terjadinya penurunan skor sebesar 22 poin bila dibanding tahun 2015. Namun penurunan tajam terjadi di kemampuan membaca, yakni turun 28 poin di seluruh negara OECD dan 16 poin di antara negara peserta non-OECD dibanding tahun 2015.
Menurut Mathias Cormann, Sekretaris Jenderal OECD, penurunan kemampuan membaca sangat mengkhawatirkan karena keterampilan membaca mendukung pembelajaran di seluruh kurikulum dan sangat penting untuk menemukan, mengevaluasi, menafsirkan, dan merefleksikan informasi di dunia yang semakin digital.
PISA 2026 juga menunjukkan, di seluruh negara OECD, diperkirakan 20% murid berusia 15 tahun berprestasi rendah pada kemampuan sains, di ketiga mata pelajaran tersebut atau meningkat dari 16% pada tahun 2022. Para murid ini akan kesulitan memahami teks sederhana dan kekurangan keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk berhasil dalam pendidikan lanjutan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.
Andreas Schleicher, Direktur Bidang Pendidikan dan Keterampilan OECD, menilai, hasil PISA 2026 dalam hal kemampuan membaca menimbulkan kekhawatiran terjadinya penurunan keterampilan yang paling penting di era Artificial Intelligence (AI), yakni ketika mengevaluasi informasi, membuat keputusan, menghubungkan berbagai sumber, dan berpikir kritis tentang apa yang dibaca.
“Proporsi jumlah murid yang terburu-buru membaca teks dan memberikan jawaban singkat namun salah hampir berlipat ganda antara tahun 2018 dan 2025. Di dunia yang semakin dibanjiri informasi, murid saat ini cenderung kurang mampu berpikir mendalam dan memisahkan informasi penting dari informasi yang tidak relevan, “kata Schleicher.
Baca juga : Program Prioritas Nasional Bidang Pendidikan Tahun 2027

Skor Indonesia
PISA 2025 menunjukkan, kemampuan membaca murid di Indonesia naik 6 poin, dari 359 pada tahun 2022 menjadi 365. Walaupun naik, skor membaca murid Indonesia masih jauh di bawah rata-rata murid di negara peserta OECD yang mencapai 461 poin. Sekitar 27% murid di Indonesia baru mencapai Level 2 dalam membaca, jauh di bawah rata-rata negara OECD yang sebesar 69 persen. level 2 ini mengandung arti, murid di Indonesia dapat mengidentifikasi ide utama dalam teks yang panjang, menemukan informasi berdasarkan kriteria yang eksplisit meskipun terkadang kompleks, dan dapat merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika secara eksplisit diarahkan untuk melakukannya.
Di Indonesia, hampir tidak ada murid yang mencapai Level 5 dalam membaca dibanding rata-rata negara anggota OECD sebanyak 6%. Kemampuan membaca level 5 atau lebih ini mengandung arti kemampuan memahami teks yang panjang, menangani konsep-konsep yang abstrak atau berlawanan dengan intuisi, dan membedakan antara fakta dan opini, berdasarkan petunjuk implisit yang berkaitan dengan isi atau sumber informasi.
Walaupun begitu, ada kabar baik Indonesia di PISA 2026. Kabar baik itu yakni, 80% murid di Indonesia memiliki rasa ingin tahu tentang banyak hal yang berbeda, dibandingkan dengan 73% di seluruh negara OECD. Selain itu, 74% murid mengerahkan upaya ekstra ketika ada materi pembelajaran yang menantang dibanding rata-rata murid di negara peserta OECD yang mencapai 60%.
Selain itu, sekitar 52% murid Indonesia sering merencanakan pendekatan mereka dalam belajar dibanding rata-rata murid di negara peserta OECD yang mencapai skor 37 persen. Selain itu, 55% murid Indonesia selalu melakukan evaluasi dan interospeksi soal pemahaman atas materi pembelajaran dibanding rata-rata murid negara OECD sebesar 49%.
Dalam pembelajaran sains, PISA 2026 memperlihatkan, 82% murid di Indonesia mengakui dukungan guru di sebagian besar pelajaran sains dibanding rata-rata murid di negera peserta OECD yang sebesar 69%.
.