Jakarta– Pada tahun 2026 ini, sebanyak 545 siswa Papua mengikuti program ADEM di 6 propinsi, yakni Banten, Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Mereka telah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan telah mengikuti pembelajaran di sekolah tujuan masing-masing. Sebelumnya, selama lima hari, mereka mengikuti Pendidikan Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan TNI.
Hampir semua siswa ADEM baru pertama kali merantau jauh dari keluarga. Di usia yang masih belia, jauh dari keluarga, dan memasuki lingkungan yang baru, termasuk lingkungan pergaulan, lingkungan budaya dan bahasa, serta tuntutan akademik, menjadi tantangan bagi peserta program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) Papua.
Hugo Raffles Wangbon, siswa ADEM asal Jayapura yang berkesempatan menjalani pendidikan di SMAN 1 Kediri, Tabanan, Bali, mengaku sempat kaget dan bingung karena menghadapi perbedaan yang sangat banyak, mulai dari perbedaan bahasa, agama, cara beribadah, hingga cara berinteraksi.
“Saya sempat grogi untuk memulai percakapan, takut salah, namun saya bersyukur, teman-teman yang asli Bali memulai percakapan, bahkan dengan bercanda meminta saya berbahasa atau bergaul seperti orang Papua, “ujarnya sambil memasang emoji tertawa saat diwawancara melalui WA beberapa waktu lalu.
Hugo juga banyak belajar dari kakak-kakak kelasnya sesama ADEM Papua.
“Kakak kelas sesama ADEM dari berbagai daerah di Papua ada yang sama kostannya dengan saya, sehingga saya bisa banyak berdiskusi,”ujarnya.
Hugo yang bercita-cita jadi pilot ini juga terkesan saat mengikuti Pelatihan Kebangsaan di Pangkalan TNI Angkatan laut di Denpasar pada 5-10 Juli lalu.
“Selama 5 hari saya berada di Angkatan Laut, saya kaget, tetapi setelah beberapa hari, saya menyukainya, saya mengikuti semua kegiatan, sangat seru dan menyenangkan, dan saya memeroleh manfaatnya tentang disiplin mulai dari bangun pagi, berolahraga, tidur teratur dan lain lain.” ujar Hugo yang berorangtua pegawai swasta ini.
Hal yang sama dirasakan Defita Hindom. Siswi kelahiran Danaweria, Distrik Fakfak Tengah, Kabupaten Fak Fak, Papua Barat, ini, dihari-hari pertama sekolah, selalu merindukan orang tua, dan teman-temannya di Fak Fak.
“Perasaan sedih itu pasti ada, apalagi ini untuk pertama kalinya pergi jauh dari orang tua, akan tetapi perasaan sedih itu terbayarkan oleh bertemunya dengan orang orang baru yang baik hati, baik di sekolah baru maupun di asrama, “ujar Defita yang ditempatkan di SMA Darma Amiluhur, Bantul, Yogyakarta.
Baca juga : ADEM Jadi Jembatan Siswa Dari Daerah 3T Memeroleh Pendidikan Bermutu
Seperti halnya Hugo, Defita juga awalnya canggung untuk berkomunikasi karena perbedaan bahasa. Beruntung, Defita orangnya supel sehingga berani untuk tidak minder dan selalu mencoba memasuki lingkungan pergaulan.
“Ternyata mereka mau merangkul saya dan teman-teman dari Papua lainnya, malah mereka mau mengajari tutur bahasa yang biasa sopan untuk kita ngomong di sini, ini yang membuat saya merasa sangat senang di sini, “ kata defita.
Beradaptasi dan berbaur tanpa ragu-ragu namun dengan tetap menjaga kesopanan juga dilakukan Frenky Baldus M Mofu. Remaja asal Kabupaten Merauke ini mengakui mengalami perbedaan budaya dan bahasa yang cukup rumit saat ditempatkan di SMAN 1 Petir, Kabupaten Serang, Banten.
“Saya berbaur secara baik dan saya bersyukur, teman-teman di Banten ini sangat bahagia menyambut saya saat sejak MPLS dan saya pribadi telah berteman baik bersama mereka,” ucapnya.
Hugo, Defita dan Frenky menyadari,banyak tantangan yang harus dihadapi saat menjalani pendidikan. Rindu orang tua, menghadapi perbedaan budaya dan bahasa serta makanan harus diatasi.
“Untuk pulang kembali tidak mungkin karena tekad saya ialah belajar untuk kembali membangun Papua, “kata Frenky.
Frenky ingin membuktikan, bahwa generasi muda dari ufuk timur nusantara juga bisa dan tidak tertinggal dalam hal pendidikan serta kesehatan.
“Saya ingin kembali ke daerah sebagai pemimpin di Merauke, saya berangan angan sebagai bupati atau sekda, “tekadnya.
Baca juga : Melalui Program ADEM, Anak-Anak Papua Ini Lanjutkan Pendidikan S2 di Luar Negeri
Tekad yang sama juga ditanamkan oleh Defita. Anak kedua dari tiga bersaudara ini menyadari, sebagai salah satu siswa yang lolos beasiswa afirmasi, harus memberikan yang terbaik dan karenanya harus mengikuti pembelajaran dengan sebaik mungkin.