Catatan:
Beberapa waktu lalu, Puslapdik menyelenggarakan sayembara menulis Kisah Inspiratif program Puslapdik dan telah diumumkan penulis yang terpilih dari kategori guru, siswa penerima PIP, siswa penerima ADEM, mahasiswa penerima beasiswa Unggulan, dan mahasiswa penerima BPI GTK. Sebagai salah satu bentuk apresiasi, hasil karya tulisnya akan dimuat secara bergiliran di laman Puslapdik.
Perkenalkan, saya, I Iesti Surya Ningsih, guru di SD Katolik Karya Yosef, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Sejak tahun 2018, saya mengabdikan diri sebagai guru. Bagi saya, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan cita-cita sejak kecil dengan harapan dapat mendampingi setiap anak menemukan potensi terbaiknya.
Perjalanan menjadi guru muda ternyata tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang saya hadapi bukan pada penyampaikan materi, tetapi pendampingan terhadap anak-anak yang memiliki kemampuan, karakter, dan kebutuhan belajar yang beragam pada kelas inklusi.
Setiap pagi, saya memasuki kelas dengan keyakinan, bahwa tidak ada satu pun anak yang ingin gagal. Mereka hanya membutuhkan cara belajar yang berbeda dan saya, sebagai seorang guru, harus dapat memahami proses belajar mereka.
Keyakinan itu semakin kuat ketika saya mendampingi seorang anak. Sebut saja namanya Bagas, seorang siswa yang mengalami disleksia berdasarkan diagnosis dokter. Bagas mengalami kesulitan mengenali huruf, membaca suku kata, dan memahami bacaan. Saat teman-teman seusianya sudah lancar membaca dan sudah dapat memahami sebuah bacaan, Bagas masih berjuang mengeja kata demi kata.
Suatu hari, saya mengajaknya membaca berdua setelah jam pelajaran selesai. Kami memulai dari kata-kata yang sangat sederhana. Saya menggunakan kartu kata, permainan membaca, gambar, dan berbagai media yang saya buat sendiri agar proses belajar terasa lebih menyenangkan. Setiap kali Bagas berhasil membaca satu kata dengan benar, saya memberikan pujian. Bagi sebagian orang, keberhasilan membaca satu kata mungkin tampak biasa. Namun bagi Bagas, itu adalah sebuah perjuangan besar.
Perjalanan kami tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya huruf yang sudah dikenali hari ini, kembali terlupakan keesokan harinya. Ada saat-saat saya harus mengulang materi yang sama berkali-kali. Pernah pula saya pulang dengan perasaan bertanya-tanya, apakah cara yang saya lakukan sudah tepat. Namun setiap kali melihat semangat Bagas yang terus mencoba, saya kembali diingatkan bahwa tugas seorang guru bukan menentukan seberapa cepat seorang anak berhasil, melainkan memastikan ia tidak berhenti mencoba.

Pengalaman mendampingi Bagas mengubah cara pandang saya terhadap profesi guru. Saya belajar, bahwa menjadi guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran,tetapi terus belajar memahami kebutuhan setiap anak, memilih strategi pembelajaran yang sesuai, menjalin komunikasi dengan orang tua, serta menciptakan lingkungan belajar yang membuat setiap anak merasa diterima.
Karena itulah, saya terus mengembangkan media pembelajaran, menyusun LKS yang lebih sederhana, memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, dan mencari berbagai cara agar semua siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan mereka.
Di balik semangat mengajar tersebut, saya juga menjalani kehidupan seperti kebanyakan guru lainnya. Sebelum menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG), gaji yang saya terima sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi, karena saat itu saya belum memiliki tanggungan keluarga. Meskipun demikian, saya tetap mengajar les di luar jam sekolah. Saya melakukannya bukan karena merasa kekurangan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab untuk mempersiapkan masa depan dan memiliki tabungan. Saya percaya bahwa setiap kesempatan untuk bekerja harus dijalani dengan sungguh-sungguh.
Awal tahun 2026 menjadi salah satu momen yang sangat saya syukuri ketika saya mulai menerima Tunjangan Profesi Guru. Bagi saya, TPG bukan sekadar tambahan penghasilan. Tunjangan tersebut merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi guru sekaligus amanah untuk terus meningkatkan profesionalisme. Dengan kondisi finansial yang lebih baik, saya dapat lebih fokus mengembangkan kompetensi, mengikuti berbagai pelatihan, memperkaya media pembelajaran, serta menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa-siswa saya.
Tidak berhenti belajar
Setelah menerima TPG, saya semakin yakin bahwa guru tidak boleh berhenti belajar. Dunia pendidikan terus berkembang, begitu pula kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, saya terus berupaya memanfaatkan teknologi, menyusun pembelajaran yang kreatif, dan membangun kelas yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menumbuhkan karakter, rasa percaya diri, serta kepedulian terhadap sesama.

Kini saya memahami, bahwa pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Pendidikan adalah tentang memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk bertumbuh sesuai dengan kemampuannya. Sebagai guru, saya ingin menjadi orang yang berjalan bersama mereka, terutama ketika mereka merasa tertinggal atau kehilangan kepercayaan diri.
Saya percaya setiap anak memiliki cahaya yang unik. Tugas saya bukan membuat semua anak bersinar dengan cara yang sama, melainkan membantu mereka menemukan cahayanya masing-masing. Selama saya masih diberi kesempatan berdiri di depan kelas, saya akan terus belajar, terus mengabdi, dan terus mengajar dengan hati. Karena bagi saya, penghargaan terbesar seorang guru bukanlah ketika menerima sebuah pujian dari orang tua, melainkan ketika melihat seorang anak yang dahulu berkata, “Saya tidak bisa,” kini mampu tersenyum penuh percaya diri dan berkata, “Bu, sekarang saya bisa.”