Beberapa waktu lalu, Puslapdik menyelenggarakan sayembara menulis Kisah Inspiratif program Puslapdik dan telah diumumkan penulis yang terpilih dari kategori guru, siswa penerima PIP, siswa penerima ADEM, mahasiswa penerima beasiswa Unggulan, dan mahasiswa penerima BPI GTK. Sebagai salah satu bentuk apresiasi, hasil karya tulisnya akan dimuat secara bergiliran di laman Puslapdik
Kisah ini dimulai dari sebuah tulisan motivasi yang saya tulis pada awal tahun ajaran,
“Seorang guru mungkin tidak mampu mengubah dunia dalam sehari. Namun, seorang guru dapat mengubah dunia seorang siswa melalui cara ia mengajar”
Sebelum melanjutkan kisah ini, perkenalkan, saya, Nugraheni Sunu Sumunar Utami, guru SMP Taman Asuhan di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Saya masih mengingat masa-masa pertama jadi guru tahun 2022, ketika memasuki ruang kelas hanya dengan sebatang spidol, sebuah buku paket, dan tekad agar anak-anak tetap semangat belajar. Sebagai guru di sebuah SMP swasta, saya menyadari bahwa tantangan kami tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membangkitkan motivasi belajar siswa yang memiliki latar belakang kehidupan serta kemampuan belajar yang berbeda-beda. Tidak semua siswa datang ke sekolah dengan kesiapan yang sama. Ada yang harus bangun pagi dan membantu orang tua sebelum berangkat ke sekolah, ada yang kurang percaya diri, bahkan ada yang menganggap belajar hanyalah sebuah rutinitas yang membosankan.
Di sisi lain, saya memiliki keinginan besar untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna. Saya ingin siswa belajar melalui proyek, berdiskusi, berkreasi, bahkan mampu memanfaatkan teknologi dengan baik. Namun, keinginan itu sering kali berbenturan dengan keterbatasan yang saya miliki. Saya harus belajar secara mandiri, mencari referensi di sela-sela kesibukan mengajar, bahkan menggunakan fasilitas pribadi untuk membuat media pembelajaran.
Bukan sekedar tambahan penghasilan
Ketika menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi guru non-ASN tahun 2026 ini setelah mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) tahun 2025, saya memandangnya bukan sekadar tambahan penghasilan. Saya menganggapnya sebagai amanah sekaligus kepercayaan negara agar saya terus bertumbuh sebagai pendidik profesional. Saat itulah saya bertekad bahwa sebagian dari tunjangan tersebut harus kembali kepada mereka yang menjadi alasan saya dalam memilih profesi ini, yaitu para siswa.
Saya mulai berinvestasi pada hal-hal yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Saya mengikuti berbagai pelatihan dan webinar tentang Kurikulum Merdeka, pembelajaran mendalam, pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan, serta pembuatan media pembelajaran digital. Saya belajar menggunakan Canva untuk membuat bahan ajar yang lebih menarik, memanfaatkan Scratch agar siswa mengenal dasar-dasar pemrograman dengan cara yang menyenangkan, serta mengembangkan LKPD dan modul ajar yang lebih kontekstual.
Awalnya semua terasa tidak mudah. Berkali-kali saya mencoba dan berkali-kali pula harus mengulang karena hasilnya belum sesuai harapan. Namun, setiap proses belajar itu mengingatkan saya bahwa guru juga adalah pembelajar sepanjang hayat. Perubahan kecil mulai terlihat di kelas. Siswa yang biasanya hanya mendengarkan kini lebih aktif berdiskusi. Mereka lebih antusias ketika pembelajaran dikemas dalam bentuk proyek. Pada mata pelajaran Informatika, mereka belajar menyusun algoritma melalui permainan sederhana. Pada pembelajaran matematika, mereka tidak lagi sekadar menghitung, tetapi diajak memecahkan masalah nyata yang dekat dengan kehidupan mereka.
Baca juga : Inspirasi Dari A. Asmaul Husna: Ketika Kesempatan Mengetuk Kembali
Permainan edukatif
Salah satu anak yang paling membekas dalam perjalanan saya sebagai guru adalah Fahrezi. Di kelas, Fahrezi dikenal sebagai siswa pendiam. Ketika guru mengajukan pertanyaan, ia lebih sering menundukkan kepala. Saat diskusi kelompok berlangsung, ia memilih mendengarkan teman-temannya daripada menyampaikan pendapat. Nilai akademiknya pun tidak selalu menonjol dibandingkan dengan teman-temannya.
Banyak orang mungkin menganggap Fahrezi sebagai anak yang biasa saja. Namun, saya melihat sesuatu yang berbeda. Di balik sikapnya yang pendiam, saya menemukan rasa ingin tahu yang besar. Ketika berbincang santai di luar pelajaran, matanya berbinar saat menceritakan permainan digital yang ia sukai dan teknologi yang sering ia gunakan. Saat itulah saya menyadari bahwa mungkin bukan Fahrezi yang tidak mampu belajar, melainkan saya yang perlu menemukan cara belajar yang sesuai dengannya.
Berbekal semangat untuk terus meningkatkan kompetensi sebagai guru, saya memanfaatkan ilmu yang sudah saya dapatkan dari berbagai kegiatan yang sudah saya ikuti dengan bantuan Tunjangan Profesi Guru (TPG) untuk merancang pembelajaran dengan permainan edukatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Perlahan, suasana kelas berubah. Materi yang sebelumnya hanya disampaikan melalui papan tulis kini hadir dalam bentuk kuis interaktif, permainan edukatif, video pembelajaran, dan tantangan berbasis proyek. Soal-soal yang kami bahas di kelas tidak lagi sekadar angka dan rumus, tetapi dikaitkan dengan pengalaman yang mereka jumpai setiap hari. Suatu hari, saat permainan berlangsung, Fahrezi mulai mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan. Jawabannya memang belum selalu sempurna, tetapi keberaniannya untuk mencoba adalah sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Dari pertemuan ke pertemuan, ia semakin aktif berdiskusi. Bahkan, ia mulai berani menyampaikan pendapatnya di depan teman-teman sekelas.
Media pembelajaran berbasis permainan ternyata jembatan yang membuat Fahrezi lebih mudah memahami konsep-konsep yang sebelumnya terasa sulit. Ketika permasalahan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, ia mampu menghubungkan pengalaman pribadinya dengan materi yang sedang dipelajari. Kepercayaan dirinya tumbuh sedikit demi sedikit. Saat itulah saya benar-benar memahami bahwa teknologi bukanlah tujuan pembelajaran. Teknologi hanyalah alat yang membantu guru menemukan jalan menuju hati setiap siswa. Saya tidak lagi takut mencoba teknologi baru, justru saya merasa tertantang untuk terus menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa.

Peluang terus belajar
Sebagai guru, saya percaya bahwa Tunjangan Profesi Guru bukan sekadar bentuk penghargaan atas profesi yang saya jalani. Lebih dari itu, TPG menjadi peluang bagi saya untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan dunia anak-anak saat ini. Namun, yang paling berharga bukanlah pelatihan yang saya ikuti atau media pembelajaran yang berhasil saya buat. Yang paling berharga adalah melihat senyum siswa ketika mereka berkata, “Bu, ternyata belajar itu menyenangkan.”
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa setiap usaha yang dilakukan seorang guru tidak pernah sia-sia. Kini saya semakin memahami bahwa profesionalisme guru bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan yang harus terus ditempuh. Tunjangan Profesi Guru bukan sekadar penghargaan atas profesi yang saya jalani, tetapi sebuah amanah untuk terus menghadirkan pembelajaran yang relevan, kreatif, dan berpihak kepada siswa. Saya percaya bahwa investasi terbaik dalam pendidikan bukanlah bangunan yang megah ataupun perangkat yang canggih. Investasi terbaik adalah guru yang terus belajar agar mampu menghadirkan harapan bagi setiap anak di ruang kelasnya. Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang guru bukanlah tentang seberapa banyak yang ia ajarkan, melainkan tentang seberapa banyak kehidupan yang berhasil ia ubah.