Catatan:
Beberapa waktu lalu, Puslapdik menyelenggarakan sayembara menulis Kisah Inspiratif program Puslapdik dan telah diumumkan penulis yang terpilih dari kategori guru, siswa penerima PIP, siswa penerima ADEM, mahasiswa penerima beasiswa Unggulan, dan mahasiswa penerima BPI GTK. Sebagai salah satu bentuk apresiasi, hasil karya tulisnya akan dimuat secara bergiliran di laman Puslapdik.
Perkenalkan, nama saya Muhammad Mugi Afriza Maulana. Orang-orang biasa memanggil saya Nugi. Saya adalah seorang anak yang lahir dan tumbuh di antara hamparan ladang sayur dan barisan perbukitan yang sejuk. Bagi sebagian orang, Desa Igirklanceng mungkin hanyalah sebuah titik kecil di peta sebuah pelosok tertinggi di Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang hampir setiap hari diselimuti kabut tebal. Namun bagi saya, desa berudara dingin di lereng Gunung Slamet inilah rumah tempat saya pulang, dan di SMP Negeri 3 Satu Atap Sirampog pulalah saya menaruh mimpi.
Jujur saja, beberapa bulan lalu, setelah lulus sekolah dasar dan sebelum masuk kelas VII, mimpi itu hampir saja membeku bersama dinginnya tanah kelahiran saya. Sebagai anak seorang buruh tani kentang dan sayur, saya sangat tahu diri. Penghasilan orang tua saya tidak menentu, tergantung pada harga pasar dan cuaca yang sering kali tak tertebak. Seringkali, hasil panen hanya cukup untuk mengisi piring makan kami sehari-hari. Oleh karena itu, menjelang kelulusan SD kemarin, saya merasa risau. Bukan karena dinginnya angin malam, melainkan karena sebuah ketakutan yang terus membayangi: “Apakah anak seorang buruh tani seperti saya bisa lanjut SMP?”
Saya sempat takut harus mengubur keinginan belajar dan memilih ikut bekerja di ladang karena ketiadaan biaya. Untuk membeli seragam biru-putih, sepatu baru, tas, dan buku-buku panduan, uang dari mana? Di tengah rasa cemas yang mulai mengikis harapan, secercah keajaiban datang lewat Program Indonesia Pintar (PIP) dari Puslapdik. Saya masih ingat betul raut wajah ibu malam itu. Saat tahu nama saya terdaftar sebagai penerima bantuan, ibu memeluk saya erat-erat dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak ada kata-kata mewah yang keluar, hanya bisikan lirih, “Nak, kamu harus tetap sekolah.”
Baca juga : Inspirasi dari I Iesti Surya Ningsih: Mengajar dengan Hati, Bertumbuh Bersama Setiap Anak
Bantuan PIP ini benar-benar menjadi penyelamat. Begitu dana cair, ibu langsung membelikan saya seragam sekolah yang layak, sepatu hitam yang kuat untuk menanjak jalanan pedesaan Igirklanceng, serta alat tulis lengkap. Rasa minder yang sempat bersarang di kepala seketika runtuh. Saya tidak perlu malu lagi saat berbaur dengan teman-teman baru di kelas VII.
Manfaat terbesar dari PIP ini bukan sekadar nominal uangnya, melainkan ketenangan jiwa yang diberikannya. Kini, setiap pagi berjalan kaki menembus kabut tebal menuju sekolah satu atap, langkah kaki saya terasa begitu ringan. Saya tidak perlu lagi kepikiran apakah besok bisa membeli buku atau tidak. Fokus saya sekarang hanya satu belajar dengan tekun dan mendengarkan penjelasan guru di kelas.
Melalui kisah nyata ini, saya ingin menitipkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Puslapdik. Di sudut pelosok desa yang dingin ini, bantuan PIP telah hadir seperti jaket tebal yang menghangatkan mimpi-mimpi saya. PIP membuktikan bahwa anak pelosok seperti saya juga berhak memiliki cita-cita setinggi langit. Perjalanan saya di kelas VII baru saja dimulai, dan saya menaruh harapan besar agar langkah ini tidak terhenti di sini. Saya ingin terus melangkah maju, melewati jenjang demi jenjang, dan mengenyam pendidikan setinggi-tingginya tanpa harus takut lagi terpangkas oleh keterbatasan biaya. Saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk terus belajar, meraih masa depan yang gemilang, dan mengangkat derajat keluarga kami.