Jakarta- Berperan sebagai orang tua merupakan salah satu cara yang dilakukan guru pendamping Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) Papua, daerah 3T dan anak repatriasi. Berperan sebagai orang tua itu dilakukan karena siswa ADEM itu masih berusia remaja dan baru pertama kali merantau jauh dari orang tua dan berada di lingkungan yang baru sama sekali sehingga siswa kerap galau, ingat orang tua dan dalam kondisi tertentu bersikap di luar kendali.
Peran orang tua itu lah yang dilakukan Sri Ngatun, pendamping ADEM di SMKN 1 Kragilan. Banten. Menurut guru olah raga tersebut, sebagai orang tua, dirinya menjadi tepat curhat dan keluhan siswa ADEM, baik terkait pergaulan, ingat orang tua,rindu kampung halaman, dan masalah pribadi.
“Mereka kan masih remaja, suka galau, karena jauh dari orang tua, saya lah yang bertindak sebagai orang tua pengganti, “kata Sri Ngatun.
Namun, sebagai orang tua, Sri Ngatun kadang harus bersikap tegas, namun di lain waktu juga harus mengayomi dan membimbing.
“Istilah saya tarik ulur, yakni kadang tegas, kadang membiarkan penuh, tapi sering kali membiarkan namun tetap dalam pengawasan dan pengendalian, “kata Sri Ngatun yang sudah menjadi pendamping ADEM sejak tahun 2013, yakni saat program ADEM mulai digulirkan pemerintah.
Di SMKN Kragilan, siswa ADEM ditempatkan di rumah kost sekitar sekolah. Ada 5 rumah kost yang disewa pihak sekolah. Masing-masing rumah kost diisi 4 orang siswa yang didampingi satu orang tetangga di sekitarnya sebagai induk semang. Ketika siswa ADEM pertama kali datang, Sri Ngatun langsung mewajibkan untuk berbaur dengan masyarakat setempat di tempat dimana siswa kost. Tentunya siswa juga diperkenalkan pada pihak Rt dan Rw setempat dan masyarakat di sekitarnya.
“Saya tegaskan di awal, bahwa di sini juga banyak warga pendatang, yang penting bila ketemu warga menyapa, salim, ramah, di manapun berada sikap baik dan tid ak sombong akan baik baik saja, “katanya.
Eka Sovia, pendamping siswa ADEM di SMAN 1 Padang, Sumatera Barat, juga menyadari adanya kegalauan siswa ADEM ketika pertama kali datang, seperti rindu orang tua, rindu kampung halaman,dan sebagainya, bahkan dikatakan Eka, ada siswa yang menangis dan ingin pulang.
Di sela-sela tugas utamanya sebagai pengajar, Eka me ncurahkan waktu, tenaga, pikiran, dan perasaannya agar siswa ADEM mampu menyelesaikan pendidikannya hingga lulus bahkan mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Guru kimia tersebut dipercaya menjadi pendamping siswa ADEM sejak sekitar 3 tahun lalu. SMA tersebut menjadi salah satu sekolah penerima siswa ADEM dari daerah 3T.
Untuk memperkuat psikologis siswa agar tetap bertahan sampai selesai menjalani pendidikan, Eka memberikan perhatian yang intensif layaknya seorang ibu pada anaknya dengan pendekatan yang persuasif dan menyentuh perasaan siswa.
“Saya alokasi waktu untuk selalu berada di dekat mereka, bahkan untuk siswi, saya nemenin mereka tidur satu kamar kira-kira paling sedikit 10 hari, “tutur Eka.
Eka bercerita, ada suatu waktu seorang siswa ADEM harus di rawat di rumah sakit. Karena orangtuanya sulit dihubungi, Eka menungguinya di rumah sakit dan berperan sebagai orang tua.
Eka juga mengajak siswa lain yang sebaya, baik siswa reguler maupun siswa ADEM lain yang sudah lebih dulu datang untuk juga berbagi cerita, saling menguatkan dan memberi motivasi. Di sekolah, siswa ADEM yang baru datang ditempatkan satu bangku dengan siswa yang mempunyai prestasi akademik dengan tujuan agar siswa ADEM bisa belajar dan termotivasi hingga secara perlahan terbiasa dan sampai mandiri.

Dukungan akademik
Dalam hal akademik, diakui Eka, siswa ADEM yang semuanya berasal dari Kepulauan Mentawai datang dengan kemampuan akademi yang sangat rendah.
“Mereka memang tertinggal sekali. Dari Padang ke Kampung halaman mereka di Mentawai itu harus menyeberang lautan yang ombaknya tinggi, setelah itu naik turun bukit, naik kapal lagi, baru sampai ke kampung halaman mereka yang bahkan sinyal telpon saja sulit, ” kata Eka.
Untuk meningkatkan kemampuan akademik,lanjut Eka, siswa ADEM diberikan pelajaran tambahan di luar jam pelajaran, bahkan dimasukkan ke lembaga bimbingan belajar. Dengan berbagai cara yang dilakukan itu, ada beberapa siswa ADEM yang berprestasi, mengikuti lomba karya ilmiah sampai nasional, bahkan ikut kegiatan olimpiade, walau tidak ada yang sampai juara.
“Untuk mendukung prestasi siswa ADEM itu, kami datangkan guru khusus untuk belajar soal-soal olimpiade, “jelas Eka.
Dukungan peningkatan akademik juga dilakukan Sri Ngatun. Dikatakannya, sebetulnya kendala akademik muncul di enam bulan pertama setelah kedatangan.Seiring dengan berjalannya waktu,bimbingan akademik dan dukungan dari guru serta teman-temannya, di kelas 11 para siswa ADEM sudah mulai sejajar dengan siswa-siswa lainnya.
Dukungan juga diberikan sesuai peminatan siswa.
“Saya harus memahami apa yang mereka minati, dan kita arahkan sesuai minatnya itu, dan berbagai motivasi saya berikan, “katanya.
Salah seorang siswa ADEM, Safira Husianti, mengakui, saat awal jadi siswa ADEM, dirinya sangat pendiam, pemalu dan tidak punya rasa percaya diri untuk tampil di panggung. Namun setelah dibimbing, Safira merasakan perubahan dengan adanya keberanian berbicara di depan publik.
“Saat ini, saya jadi anggota Paskibra dan atlet volley di SMAN 1 Padang, “katanya.
Aldyan Anton, siswa ADEM Repatriasi di SMK Kragilan mengakui kaget dan terpana saat pertama kali datang karena melihat keramaian penduduk dan kemegahan gedung-gedung di Jakarta, Tangerang dan Serang. Namun Aldi merasakan kehangatan lingkungan sosial, teman-temannya satu kelas dan kakak-kakaknya sesama ADEM.
“Mereka sangat membantu dan membimbing saya sehingga mudah beradaptasi, “kata siswa kelas X ini.
Aldi juga mengapresiasi guru pendamping yang tak kenal lelah membimbing dan memotivasinya agar lebih giat belajar dan berprestasi serta mengajarkan kedisiplinan dalam membagi waktu antara belajar dengan kegiatan ekstra kurikuler.
Pada Januari 2026 lalu, Aldyan berhasil menjadi juara 1 Kejuaraan Tinju Walikota Cilegon Kelas 51 Kg .

Raih penghargaan sebagai pendamping ADEM
Pada Malam Tasyakuran Hari Pendidikan Nasional 2026, Sri Ngatun dan Eka Sovia menerima penghargaan sebagai guru pendamping siswa ADEM. Sri Ngatun terpilih sebagai guru pendamping ADEM berdedikasi Terbaik 1, dan Eka Sovia sebagai guru pendamping ADEM Berdedikasi Harapan ke II.
Menurut penanggungjawab program ADEM Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Dwi Permana, penghargaan diberikan pada guru pendamping ADEM yang telah menunjukkan kinerjanya secara optimal dalam membantu siswa ADEM untuk mandiri dan adaptatif sehingga mengalamiperbaikan karakter dan peningkatan kualitas akademik atau non akademik.
“Penghargaan diberikan pada pendamping siswa ADEM yang mampu menyeimbangkan waktu antara tugas mengajar dan mendampingi siswa ADEM dengan pendekatan emosional sehingga siswa ADEM nyaman berada di lingkungan baru, “katanya.
Ditegaskan Dwi, guru pendamping ADEM merupakan kunci keberhasilan Program ADEM. Karena itu, penghargaan diberikan sebagai apresiasi karena mampu menjaga harapan siswa ADEM yang mengalami hambatan akses pendidikan agar dapat menjalani studi sebaik-baiknya sampai tuntas sehingga menjadi pribadi yang mandiri dan berkarakter.